Artikel Kesehatan – Bahaya Kanker Kulit Yang Bisa Timbulkan Kanker Lainnya

 

Sudah dapat di ketahui kalau kanker kulit saat ini memang sering terjadi pada lapisan sel skuamosa, basal dan melanosit kulit. Akan tetapi belakangan ini sebuah studi sudah berhasil menemukan kalau penderita kanker kulit non melanoma  (kanker yang terjadi pada ketiga lapisan sel tersebut) berisiko tinggi terkena kanker lain yang lebih parah beberapa tahun kemudian.

Dalam sebuah studi tersebut, kumpulan para peneliti yang sudah di pimpin oleh Jiali Han, salah seorang professor dermatologi dari Havard Medical School sudah mengamati adanya resiko serangan kanker pada 153.600 orang yang sudah masuk dalam dua studi yang besar tersebut, Health Professionals Study (sejak 1986) dan Nurses’ Health Study (sejak 1984). 20 Tahunan kemudian atau tepatnya pada tahun 2008, tercatat 29.500 kasus kanker telah terdiagnosis dari keseluruhan partisipan

Studi tersebut sudah  menemukan kalau wanita yang mendapatkan penyakit kanker kulit non-melanoma seperti karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa maka 26 persen lebih besar peluangnya untuk dapatkan kanker kulit atau kanker jenis lain dibandingkan wanita yang tidak mengidap kanker kulit sama sekali. Berbeda dengan pria, yang hanya mendapatkan resiko sebesar 15 persen saja di banding wanita yang lebih beresiko.

Lebih dari pada itu penderita kanker kulit non-melanoma juga dapatkan resiko akan mengidap kanker kulit melanoma yang mematikan dan khusus untuk wanita pengidap kanker kulit non-melanoma berisiko tinggi mengidap kanker paru-paru dan kanker payudara.

Peneliti juga memperhitungkan sebab lain yang bisa pengaruhi hasil temuan seperti usia partisipan dan orang yang selalu terbiasa dengan merokok, sedangkan pada wanita peneliti juga mempertimbangkan penggunaan terapi penggantian hormon yang dilakukan partisipan.

“Kaitan antara kanker kulit non-melanoma dan munculnya melanoma di kemudian hari bisa jadi diakibatkan oleh paparan sinar matahari,” terang peneliti seperti dilansir Livescience, Jumat (26/4/2013).

Tapi menurut Anthony Alberg, profesor epidemiologi dari Medical University of South Carolina, AS yang tidak terlibat dalam studi ini, alasan yang mendasari tingginya risiko kanker kulit lainnya ini tidaklah begitu jelas. “Sejumlah peneliti menduga mesin seluler yang terlibat dalam perbaikan DNA pada beberapa orang tampaknya tak bekerja dengan baik sehingga membuat mereka berisiko lebih tinggi untuk terserang jenis kanker apapun,” katanya.

“Namun karena basis datanya besar, temuan ini dianggap menambah bukti adanya kaitan antara kanker kulit dengan risiko kanker lain. Kendati begitu, risiko kanker yang diperlihatkan studi ini tidaklah memadai untuk memberikan rekomendasi pada orang-orang yang mengidap kanker kulit non-melanoma agar menjalani screening lebih dini atau lebih sering dari biasanya,” pungkas Alberg.

 

Be Sociable, Share!