Berita Bisnis Dan Ekonomi – Mengapa Menteri Susi Bertengkar Dengan Nelayan ?

 

Susi Pudjiastuti, yang menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan di ketahui berjalan dengan terburu-buru pada saat keluar dari Istana Negara untuk hari Rabu kemarin. Dari raut wajahnya pun kin sudah terlihat masam. Tidak seperti biasanya, Susi juga tidak ramah pada saat di wawancarai.

Setelah 45 menit selanjutnya, ada beberapa pria yang menggunakan kemeja batik pun keluar dengan berbondong-bondong berada di Istana Negara. Mereka ternyata sudah di ketahui adalah Front Nelayan Bersatu yang sudah datang dari kawasan Rembang dan Brebes.

Seperti dari Bambang Wicaksana yang menjadi Koordinator Front Nelayan Bersatu tersebut memberikan suatu cerita bahwa dari pertemuan tadi memang sangat sengit sekali. Gara garanya adala dari para nelayan yang saat ini mengeluhkan adnaya kebijakan dari Susi yang memberikan larangan kepada semua nelayan pantura untuk menggunakan cantrang, yaitu alat penangkap ikan tanpa pemberat untuk di bulan september dan seterusnya.

Susi memberikan penjelasan bahwa penggunaan cantrang itu layaknya penggunakan trawl yang sudah diyakini olehnya bisa merusak adanya kelestarian biota laut.

“Dengan di berlakukannya Permen 2/2015 tentang pelarangan alat tangkat ikan, cantrak memang sangat menghambat adanya ekonomi dari nelayan kami. Terpaksa adapun segala upaya sudah kami lakukan, mulai dari DPR RI, berdemo akan tetapi tidak ada tanggapan sesuatu dari Ibu Susi, sehingga pada akhirnya kami langsung menghadap ke Bapak Jokowi selaku presiden.

Dirinya menyebutkan bahwa dari nelayan sebenarnya hanya ingin adanya pelarangan itu bisa di tunda sampai tidak tahun yang akan datang. Disebabkan apabila dalam jangka waktu sempit ini nelayan harus bisa berhenti untuk melaut, mereka tidak bisa membayar adanya kredit yang sudah di ajukan. Jika dari nelayan menggantikan alat untuk menangkap ikan tersebut, adapun biaya yang harus di keluarkan memang sangat besar sekali.

Dirinya menambahkan, untuk bisa menggunakan cantrang memang hanya membutuhkan sebesar 300 jutaan. Akan tetapi menggantikan dengan alat lain, para nelayan harus bisa menghabiskan sebanyak Rp 1 milyar. Jumlah itu masih belum ada tambahan lagi jika adanya biaya penggantian kapal dan pelatihan nelayan.

Be Sociable, Share!