Berita Dunia Terkini – Zahalka Memimpin Partai Yahudi di Israel

 

Seorang perempuan berdarah Palestina memang nampaknya terlihat sibuk di tataran politik Israel selama dua dekade. Perempuan itu tidak lain adalah pimpinan Partai Daam yang beranggotakan banyak warga Yahudi dan berhaluan sosialis.

Asma Aghbaria-Zahalka ini diketahui selalu menyuarakan nasionalisasi dari industry-industri yang ada di Negeri Yahudi yang dipimpin oleh pemerintahan Kapitalis. Zahalka sendiri turut menyuarakan dukungannya untuk negara Palestina agar dapat merdeka meskipun berdiri berdampingan dengan Israel.

Zahalka ini adalah perempuan keturunan Arab-palestina yang menjadi pemimpin partai yang secara mayoritas dihuni oleh warga Yahudi. Akan tetapi, Zahalka ini masih mendapatkan dukungan dari warga muslim.

Zahalka selalu disamakan dengan Haneen Zoabi, seorang politisi asal Nazareth yang cukup terkenal. Sebagai politisi perempuan yang dinilai kontroversi, Zoabi adalah seorang wanta yang sangat mendukung sekali pergerakan yang dilakukan negara Palestia. Sikap itulah yang membuat warga Yahudi di Israel membencinya.

Keputusan Zoabi sendiri untuk bergabung dalam armada bantuan ke Palestina mendapatkan kritik tajam dari Israel. Zoabi pun mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki teman dari kalangan Yahudi.

Salah satu perbedaan antara Zahalka dan Zaobi yakni adalah cara pandangnya terhadap Arab dan Yahudi. Ia menegaskan bahwa ia hanya mencari konsensus dan tidak berkonfrontasi dengan warga Yahudi di Israel.

Memang, selama bertahun-tahun, partai sosialis Yahudi-Arab di Israel tidak memberikan pengaruh besar. Akan tetapi, parta itu seringkali diminati oleh sejumlah seniman, akademisi, pengangguran, serta buruh-buruh di Israel.

Zahalka dinilai cukup berpengaruh karena sempat mengorganisir aksi demonstrasi untuk melakukan penentangan terhadap kebijakan pemerintah. Zahalka mengkritik sistem sosial patriarki di Israel, Hams, serta kebijakan rasis masyarakat Israel.

Zahalka sendiri lahir dari keluarga muslim di Jaffa, Tel Aviv. Orang tuanya merasa khawatir putrinya dianggap sebagai seorang pembuat masalah. Zahalkan sempat dilarang untuk keluar rumah selama dua bulan lamanya, namun perempuan berusia 39 tahun itu melawan dan kemudian memilih untuk bergabung dalam partai politik pada tahun 1996. Dalam politik, ia memang cukup berpotensi untuk meraih suara warga Arab, warga minoritas di Israel.

 

Berita Dunia Terkini

Be Sociable, Share!