Berita Ekonomi Indonesia – Indonesia Melawan Rencana Bea Masuk Untuk CPO

 

Sekarang ini, Parlemen Prancis tengah berusaha untuk menggodok undang-undang yang diantaranya berisi sejumlah rencana mengenai penerapan terhadapa bea masuk yang besarnya mencapai angka 300 persen yang akan digunakan untuk komoditas minyak sawit mentah (CPO). Hal ini dikarekana CPO memiliki kandungan lemak jenuh yang dianggap tidak baik bagi kesehatan.

Sebagai negara eksportir CPO terbesar di dunia, Negara Republik Indonesia tidak tinggal diam. Bahkan, Bayu Krisnamurthi selaku Wakil Menteri Perdagangan mengungkapkan bahwa Indonesia akan segera melobi parlemen Prancis untuk menjelaskan secara mendetail.

Saya akan menjelaskannya nanti di debat terbuka bahwa apapun yang dikonsumsi secara berlebihan tidak baik, tidak hanya terbatas pada sawit saja,” tukasnya kepada salah seorang wartawan yang mendatangi kantornya.

Walaupun jumlahnya masih terbilang kecil, Bayu menganggap bahwa rencana itu adalah bentuk kampanye negative terhadap produk ekspor andalan negara Indonesia. Untuk itulah, ia pun menyinggung kepentingan bisnis dari masing-masing negara.

Seperti yang kita ketahui, bahwa maskapai-maskapai penerbangan Indonesia membeli sejumlah pesawat Airbus dari Prancis beberapa tahun belakangan ini. Belum lagi, sejumlah perusahaan ternama di Prancis seperti tahun belakangan banyak membeli pesawat Airbus dari Prancis. Belum lagi, beberapa perusahaan terkemuka Danone, L’oreal, dan Carrefour berekspansi hingga ke pelosok negeri. Untuk itulah sebagai sebuah timbal balik, Bayu berharap penuh bahwa Prancis bisa menerima produk dari Indonesia.

“Sawit adalah andalan Indonesia. Saya berharap itu dapat dijaga juga.”

Untuk serangan terhadap komoditas sawit sendiri bukan kali ini saja dihadapi oleh Indonesia. Selain karena isu kesehatan, isu lingkungan juga seringkali dilancarkan untuk memperlihatkan kelemahan komotidas ekspor utama dari Indonesia ini. Bayupun menanggapi bahwa dari 23 juta ton CPO yang dihasilkan oleh Indonesia, 7 ton di antaranya telah memiliki sertifikat ramah lingkungan.

Kampanye-kampanye itulah yang dinilai begitu merugikan Indonesia. Apalagi, di tahun 2014 mendatang, Uni Eropa akan menerapkan peraturan baru yakni terkait pelabelan baru dimana setiap produk harus memiliki rincian minyak nabati yang terkandung di dalamnya, apakah sawit atau kedelai.

Jika memang sampai hal itu terjadi, sawit Indonesia tidak akan lagi berhadapan dengan regulasi impor di sejumlah negara melainkan penilaian konsumen secara langsung.

“Jika image sawit terus dirusak karena isu kesehatan atau lingkungan, maka sawit akan ditolak dengan sendirinya oleh konsumen.”

 

 

Berita Ekonomi Indonesia

Be Sociable, Share!

 

Tags

Related Posts

  • No Related Posts