Berita Ekonomi – NTT Akan Jadi Kawasan Komoditi Kedelai

Berita Ekonomi – Untuk memenuhi kebutuhan kedelai di Indonesia pemerintah berencana akan mencari lahan yang sangat luas untuk dijadikan kawasan produksi komoditi kedelai. Saat ini kebutuhan komoditi kedelai di Indonesia mencapai 2,2 juta ton kedelai, sementara itu produksi komoditi kedelai yang dihasilkan oleh Indonesia baru mencapai 800 sampai dengan 850 ton sehingga kekurangannya sangat tergantung pada impor kedelai seperti yang dilakukan saat ini.

Pemerintah melalui Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan beberapa waktu yang lalu bahwa tahun depan Indonesia harus mulai menanam kedelai demi memenuhi kebutuhan. Penanaman kedelai tersebut akan menggunakan lahan kebun sawit yang belum di tanami dan salah satunya berada di diaerah Nusa Tenggara Timur dan saat ini pemerintah tengah menjajaki daerah tersebut untuk dipersiapkan sebagai kawasan produksi kedelai.

Selama ini memang masyarakat Indonesia menjadi konsumen kedelai dengan jumlah paling banyak. Kedelai tersebut di oleh menjadi bahan makan tahu dan tempe yang menjadi makanan khas dan pelengkap dalam setiap menu makanan masyarakat Indonesia. Selain itu harga tahu dan tempe ini dinilai cukup terjangkau sehingga semua kalangan dapat menikmatinya.

Impor kedelai yang selama ini masuk ke Indonesia datang dari beberapa negara seperti Amerika Serikat (AS), Kanada, Tiongkok, Malaysia dan Ukraina dengan prosentase sebanyak 60%. Namun dengan datangnya musim kemarau di beberapa negara pengimpor kedelai ini maka pasokan komoditi kedelai yang masuk ke Indonesia berkung dan menyebabkan kenaikan harga kedelai yang cukup drastis.

Dengan demikian kondisi ini membuat para produsen tahu dan tempe mulai menurunkan ongkos produksinya. Padahal sebelumnya para produsen tahu tempe ini membeli kedelai dengan harga Rp.5000,- per kilogram sebelum bulan Ramadhan lalu, namun saat ini harga kedelai melonjak hingga mencapai Rp.9000,- per kilogramnya. Beberapa produsen tahu tempe ini megaku bahwa jika harga ini akan tetap bertahan maka bisa jadi rumah produksi mereka harus tutup sementara menunggu harga dari kedelai tersebut kembali stabil.

Hal itu juga dikarenakan mereka tidak bisa menaikkan harga tahu tempe yang mereka produksi walaupun harga kedelai juga naik. Jika harga tahu tempe dinaikkan maka mereka juga akan jauh lebih rugi karena tidak ada konsumen yang mau membeli.

 

Berita Ekonomi

About The Author

Reply