Berita Hari Ini – Masjid Al Futuwwa Suasana Seperti di Penjara

Disaat adzan telah berkumandang Masjid Al Futuwwa, maka dari itu ada tanda penggilan untuk sholat Zuhur tiba. Pada waktu itu terlihat segelintir orang-orang berjalan cepat yang akan menuju Masjid Al Futuwwa yang terkepung dengan tembok beton tersebut. Sudah dapat di ketahui kalau di beberapa bulan yang lalu pendatang yang mengunjungi masjid ini semakin menurun.

Jika di lihat dari kejauhan seorang bapak yang sedang bersarung memarkirkan sepada motornya jauh dari masjid. Saat ini tidak ada yang bisa kendaraan mendekat di masjid tersebut, di mana Masjid Al Futuwwa terdapat sebanyak 300 anak yatim dan juga dhuafa. Jalan yang menuju masjid yang semula ada tiga jalan kini hanya bersisa satu jalan, dan sangat sempit sekali.

“Ya susah lah kita, mau beribadah saja kita dihalang-halangi pagar beton,” ujat Deni salah satu jamaah Masjid Jami’ Al Futuwwah saat ditemui menjelang salat Zuhur.

Tidak ada yang berbeda dengan Deni, Said yang juga menjadi jamaah masjid tersebut merasa sangat kesulitan untuk sekedar shalat berjamaah. Padahal kalau di ketahui jarak rumah dengan masjidnya sangat dekat tidak sampai 100 meter.

Dari beberapa bagian jalan sepanjang 200 meter tersebut hanya bisa di lewati oleh satu orang saja. Jamaah yang bermukim di sebelah utara masjid harus bisa mengeluarkan tenaga dua kali lipat. Mereka harus berjalan memutar di daerah yang tidak jauh dari kawasan elite Kemang Village dan juga Lippo Mall Kemang tersebut.
“Memang paska pembangunan pagar keliling ini jamaah kami berkurang. Kami memaklumi karena memang jalan menuju masjid yang sulit dan tidak bisa dilewati kendaraan,” ujar Muhammad Sanwani Naim ketua pengurus yayasan Masjid Jami’ Al Futuwwah saat berbincang dengan detikcom, Rabu (7/5/2013).

Masjid Jami’ Al Futuwwah yang bertempat di RT 02 RW 10 Cipete utara, Jakarta Selatan menjadi terisolir karena akses jalan menuju masjid yang tertutup. Pagar beton kokoh setinggi 2 meter telah beridiri di tepi tepi masjid. Tembok kokoh itu telah mengambil keleluasaan para jamaah berjalan untuk beribadah bersama.

PT.FIM Jasa Eka Tama yang sudah mengambil alih tanah selebar 3.000 meter persegi tepat di depan masjid. Saat ini Perusahaan membangun pagar beton keliling sebagai pembatas tanah milik perusahaan dan milik masjid. Pagar beton itu hanya menyisakan satu jalan selebar 1,5 meter.

Pihak pengembang menolak jika disebut sebagai pihak yang mengisolir tempat ibadah itu.

“Kami itu mau membangunkan jalan, tapi pihak yayasan masjid yang tidak mau. Kami akan beri tanah gratis untuk jalan,” ungkap Ichsan Thalib, direktur PT. FIM Jasa Eka Tama saat dihubungi detikcom, Rabu (7/5/2013)

 

About The Author

Reply