Berita Indonesia – Tim Investigasi TNI Bisa Hilangkan Barang Bukti

 

Rizal Darma Putra selaku pengamat pertahanan menganggap bahwa tim investigasi TNI AD yang diciptakan guna mengungkap kasus penyerangan yang terjadi di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIB Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tidak berjalan dengan efektif.

“Saya memang menyambut baik adanya tim investigasi TNI. Akan tetapi, saya pikir jauh lebih baik jika dilakukan dengan tim gabungan yang terdiri dari Polri, TNI, Komnas HAM, Kemenkum HAM, Komisi I dan Komisi III DPR,” tukas Rizal.

Menurutnya, jika tim investigasi yang dibuat dari gabungan melakukan bersama-sama maka akan memberikan dampak yang besar. Pasalnya, nanti akan meminimalisir perbedaan hasil investigasi yang dilakukan dan juga menjauhi kecurangan adanya pihak internal yang terlibat. Tidak hanya itu saja, jika investigasi gabungan yang dipimpin oleh anggota dari DPR dapat lebih netral ketika menyampaikan hasil penyelidikan yang telah dilakukan pada publik.

“Jika nantinya dilakukan oleh tim dari TNI AD nantinya akan dikhawatirkan jika hasilnya akan jauh berbeda dengan hasil invrstigasi yang dilakukan oleh Komnas HAM atau penyelidikan dari Polri. Nantinya, jika hasilnya yang dinyatakan malah berbeda-beda, malah akan membuat rakyat merasa bingung. Padahal yang sebaiknya adalah kasus tersebut dibiarkan terbuka dan tidak ditutup-tutupi,” tukasnya.

Selain takut dengan hasil yang berbeda, tim investigasi yang dibuat bukan dari tim gabungan jugafj kemungkinan akan menghilangkan barang bukti yang aslinya.

“Kalau tim investigasi sendiri yang bertindak akan rawan terjadi penghilangan barang bukti aslinya jika nanti ada dugaan pihak yang terlibat. Tidak hanya itu saja, kemungkinan juga ada pemotongan dari alur peristiwa yang terjadi serta pemutusan akses terhadap senjata dan aksi,” tambahnya.

Ia juga menambahkan bahwa penyerangan yang dilakukan dengan menggunakan senjata harusnya menjadi petunjuk pasti bagi tim investigasi tersebut untuk melakukan pemeriksaan dengan bertanggung jawab di gudang senjata. Walaupun memang anggota dari TNI tidaklah mudah untuk membawanya, namun jika memang ada perintah resmi maka senjata tersebut diperbolehkan untuk dikeluarkan.

“Selama ini TNI tidak membawa pulang senjata tersebut, maka semuanya akan tersimpan dengan rapi di dalam gedung. Jadi memang harusnya komandan gudang senjata pun perlu untuk diperiksa. Walaupun itu, pemeriksaan tersebut juga berlaku untuk Polri serta TNI. Jadi, semuanya harus diperiksa baik gudang senjata yang terdapat di Jogja atau Jawa Tengah. Harus dilakukan pemeriksaan secara merata.”

Sebelumnya juga diberitakan bahwa TNI AD telah membentuk tim investigasi yang terdiri dari sembilan orang. Tim tersebut dipimpin secara resmi oleh Brigjen TNI Unggul, Wadan Puspom. Tim tersebut memang dibentuk secara khusus untuk menginvestigasi karena diduga adanya oknum TNI yang terlibat dalam insiden penyerangan dan penembakan yang terjadi di Lapas Cebongan, Sabtu (23/3) yang menewaskan empat tahanan.

 

Berita Indonesia

Be Sociable, Share!