Berita International – Ditinggal PBB, Timor Leste masih Rawan Kekerasan

Sekitar 1600 pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Timor Leste yang sudah habis masa tugasnya mulai kembali ke negara mereka masing-masing. Akan tetapi, sepeninggalnya dari pasukan tersebut, kondisi keamanan di Timor Leste masih dianggap rawan dan terancam. Sehingga, masih dinilai tidak aman.

“Timor Leste masih dinilai rawan. Bisa diprediksikan bahwa akan ada suatu kesalahan yang bisa terjadi sewaktu-waktu dan menyebabkan masalah serius di negara tersebut. tentunya itu bukanlah hal yang kita inginkan karena akan berdampak buruk,” tukas Geroge Quinn, selaku pengamat politik dari Australian National University.

Negara yang sempat dipimpion oleh Jose Ramos Horta itu dilaporkan memang menghadapi banyak masalah sosial misalnya tingkat pengangguran yang tinggi, kelaparan, minimnya fasilitas kesehatan. Walaupun dunia internasional sendiri sudah mengguyur Timor Leste dengan bantuan dana dalam jumlah yang besar, tetapi sebagian dari warga negara yang menetap di negara tersebut masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Tercatat, sekitar 40 persen warga Timor Leste tidak memiliki pekerjaan. Sementara 45 persen anak-anak yang ada di Timor Leste mengalami kekurangan gizi. Timor Leste juga dianggap sebagai negara yang masuk dalam daftar negara yang memiliki kualitas hidup terburuk di dunia.

Quinn juga menambahkan bahwa masalah-masalah itu akan menimbulkan terjadinya aksi kekerasan di negara tersebut dan itu memberikan celah untuk merusak perdamaian yang ada di negara bekas provinsi Indonesia itu.

Akan tetapi, Pemerintah Timor Leste menyambut baik berakhirnya misi perdamaian PBB. Mereka juga menganggap bahwa sekarang ini, Timor Leste sudah cukup berhasil menjaga kondisi kemanan di negara mereka meskipun tidak ada bantuan dari pihak asing.

Xanana Gusmao, Perdana Menteri Timor Leste mengungkapkan bahwa negaranya akan menjadi sejahtera di tahun 2030 mendatang jika pendapatan minyak bumi dari wilayah Celah Timor berhasil masuk ke dalam kas yang dimiliki oleh pemerintah.

Akan tetapi, banyak pihak yang memberikan kritik pemerintah karena menganggap pemerintah Timor Leste tidak cukup adil dalam membagikan pendapatan dari hasil minyak bumi. Kebanyakan dana dari hasil itu digunakan untuk membangun di kota-kota sementara di wilayah pedesaan di Timor Leste hanya mendapatkan sedikit dana saja.

 

 

Berita International

About The Author

Reply