Berita Kesehatan – Kurang Gerak Sebabkan Orang Beresiko Serangan Jantung

Kurangnya kita untuk melakukan aktivitas dan juga olahraga nantinya akan membuat tubuh kita terancam dapatkan penyakit. Hal tersebut pun bisa membuat tubuh kita mempunyai suatu tabungan resiko yang di karenakan lemak dan kolesterol yang tidak di kontrol sejak dini.

Maka dari itu, jargon Move For Health harus selalu untuk digalakkan. Perlu anda ketahui serangan jantung tidak di derita oleh para orang yang hidup di perkotaan. Namun banyak pula yang menyebutkan olahraga sebagai penyebab serangan jantung mendadak, karena sudah ada bukti pada sejumlah artis ibukota meninggal setelah berolahraga.

Akan tetapi alas an tersebut sudah dikoreksi oleh Pakar Ilmu Kedokteran Olahraga Universitas Indonesia, dr. Ade Jeanne D. L Tobing. Sebab menurutnya, serangan jantung mendadak sebenarnya sudah memiliki dasar faktor risiko yang sudah di tabung dari sejak dini dahulu, sudah menyimpan lemak dan kolesterol.

“Sebabnya karena olahraga juga salah, tetapi lebih karena ada faktor resiko. Sudah ada resiko kolesterol dan diabetes sebelumnya. Sepakbola dan badminton kan olahraga berubah-ubah, dinamis. Tak benar, disebabkan olahraga. Itu sebagai pemicu saja,” ujarnya kepada wartawan di Balaikota Depok baru – baru ini.

Resiko mendapatkan serangan jantung tersebut bisa di sebabkan karena faktor genetik, atau juga pola makan dan pola hidup.

Sudah dapat di ketahui saat ini Indonesia jumlah masyarakat yang meninggal karena serangan jantung , mengalami perkembangan di tahun akhir-akhir ini. Bahkan serangan jantung ini yang secara mendadak bisa menyerang bagi orang yang masih berusia 20-40 tahun.

“Meski sudah ada penyuluhan untuk hidup sehat, namun kenyataannya kasus orang meninggal karena serangan jantung mendadak meningkat. Untuk angka-angkanya saya tidak tahu persis,” tuturnya.

Olahraga tipe aerobik 1 dan 2, kata dia, cocok untuk mengurangi resiko serangan jantung mendadak. Namun olahraga berkompetisi seperti maraton tidak baik untuk mereka.

“Kalau aerobik tipe 1 dan 2 intensitasnya konsisten. Terirama dengan baik. Olahraga kompetisi, sport enggak bisa. Karena seperti sepakbola, itu kan emosional, membentuk gumpalan darah. Intensitasnya berat,” tutupnya.

 

About The Author

Reply