Berita Nasional – Praktik Perbudakan Yang Ada di Pabrik Kuali

 

Berdasarkan dari pengungkapan akan dugaan pratik perbudakan yang terjadi di Kampung Bayur Opak RT 03/06, Desa Lebak Wangi, Kecamatan Sepatan Timur, Tangerang, membuat banyak orang sangat geram. Sudah menjadi suatu penyesalan Komnas HAM padahal sebelum kejadian tersebut sudah pernah mendapatkan laporan mereka masih belum percaya kalau semua hal tersebut masih ada di zaman sekaran ini. Tidak di sangka ternyata akhirnya suatu praktek tersebut ada beneran.

“Antara percaya dan tidak percaya, di zaman seperti ini masih ada praktik seperti itu, bagi kita awalnya ini enggak masuk akal, kok masih ada penyiksaan dan perbudakan,” ujar Komisioner Komnas HAM, Siane Indriani, dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (5/5/2013) dini hari.

Hal tersebut di mengerti dari aduan lurah Lampung bersama korban penyekapan dari siksaan bos pabrik kuali tersebut ke Komnas Ham, hal ersebut akhirnya langsung di tanggapi oleh Mabes Polri dan juga Polda Metro Jaya guna melakukan suatu penggrebekan sebagai suatu tindak lanjut dari laporan korban dan saksi.

Dari ungkapan Siane, penggrebekan yang terjadi di lakukan dengan sangat hati-hati, hal ini dilakukan karena melihat para korban yang masih merasa suatu ketakutan karena melaporkan dugaan penyiksaan yang telah di lakukan oleh pemilik usaha kuali tersebut.

“Bagaimanapun korban berhak mendapat haknya dan ini diupayakan harus segera diproses,” ujar Siane.

Siane juga memberikan suatu pertanyaan setelah sekian lama pabrik tersebut sudah berdiri, mengapa hanya baru kali ini terungkap adanya dugaan praktik pembudakan.

“Aparat, lurah setempat apa engga bisa melihat adanya aktivitas itu?” tanya Siane.

Dalam kurun waktu kurang lebih tiga bulan, para buruh yang di jadikan budak itu di sekap, di siksa dan tak di bayar. Mereka sangat takut untuk melarikan diri, takut yang di karenakan ada ancaman dari pihak perusahaan dan centeng-centengnya.

Praktek ‘perbudakan’ di pabrik kuali tersebut terkuak setelah dua buruh yang bekerja di pabrik itu berhasil melarikan diri. Andi Gunawan (20) dan Junaidi (22) kabur setelah 3 bulan dipekerjakan dengan tidak layak.

“Pada 2 Mei 2013, Komnas HAM mendapat laporan “praktek perbudakan” dari dua pemuda yang berasal dari Lampung Utara. Mereka diajak bekerja ke Tangerang oleh orang yang tidak dikenal sebelumnya. Mereka dijanjikan akan dipekerjakan di perusahaan dengan gaji Rp 700 ribu per bulan,” ujar Ketua Komnas HAM Siti Noor Laila, kemarin.

 

 

No related content found.

Be Sociable, Share!