Berita Panas Terkini – Lukisan Djokopekik Berikan Kritikan Politik Indonesia

Sudah di ketahui, dua lukisan yang terlihat sangat mencolok sekali dalam suatu pameran tunggal lukisan yang di ciptakan oleh Djokopekik yang bertajuk “Zaman Edan Kesurupan”  yang sudah di selenggarakan dalam Galeri Nasional. Selain dari adanya ukuran yang sangat besar dari kedua lukisan tersebut, yang juga memberikan sautu sosok-sosok yang sangat familiar di dalamnya.

Lukisan yang pertama yang sangat menarik perhatian adalah lukisan yang mempunyai tajuk ‘Pawang pun Kesurupan”. Di dalam suatu lukisan tersebut yang sudah tampak berbeda dengan dari para orang menggunakan pakaian seperti seragam jaksa dan hakim yang mempunyai tingkah laku seperti anak-anak. Adapun yang sedang bermesraan dengan wanita , ada yang sedang memegang tikus dan ada pula yang memakan hewan dengan hidup-hidup. Seperti dari sang kurator yang bernama Dwi Marianto, adanya lukisan tersebut memberikan sindiran kepada Kejaksaan dan persidangan yang ada di negeri ini.

“Dari karyanya yang mempunyai judul Pawang pun kesurupan, 2012 yang sudah memberikan kesan absurditas dalam suatu peradilan yang ada di negeri ini dalam suatu bayangan dari Djokopekik,” ujar dari Dwi yang sudah di dasarkan dalam pengantar Djokopekik ‘Zaman Edan Kesurupan’, Sabtu tanggal 12 Oktober 2013 kemarin.

Untuk karya yang kedua mempunyai tajuk Petruk Mantu yang sudah di buatnya pada tahun 2011 lalu. Gambaran  dari lukisan ini yang sudah menghadirkan dari peristiwa perniakahn dengan menggunakan latar belakang bangunan putih yang sangat megah seperti istana. Akan tetapi untuk sisi yang lainya ada permukiman yang kumuh yang sedang di gusur.

Dari adanya suatu lukisan tersebut memberikan cerita dari pernikahan anak pejabat. Memang sudah di ketahui kalau Djokopekik seringnya untuk memberikan kesan-kesan kritikal kepada sosial yang sudah sering di lakukannya.

“Untuk di sini yang lainya, Djoko sendiri mempunyai suatu empati terhadap dari pedagang, penjual, buruh dan yang selalu menjadi subjek. Untuk sisi yang lainya dia tafsirkan dari ungkapan, perilaku dan gestur dari pejabat dan petinggi pemerintah yang selalu di amati oleh media. Mereka seperti objek yang sering di kiaskan dalam aktor punokawan wayang,” lanjut dari Dwi.

About The Author

Reply