Berita Politik – Artis Di Gunakan Untuk Mempermanis Partai

Sudah dapat di ketahui saat ini sudah banyak terpampang jelas di Daftar Caleg Sementara (DCS) yang diserahkan parpol-parpol peserta Pemilu 2014 di tujukan kepada KPU. Banyaknya artis yang bertarung untuk bisa dapatkan kursi di Senayan dinilai sebuah sisi gelap dari demokrasi Indonesia.

“Inilah sisi gelap demokrasi. Jika perolehan suara terbanyak yang menjadi tujuan utama maka hukum popularitas dalam pemilu adalah mutlak,” ujar pengamat politik dari Universitas Paramadina Rico Marbun kepada detikcom, Minggu (28/4/2013).

Rico telah mengungkapkan di waktu yang bersamaan, parpol yang telah mengandalkan artis sebagai ujung tombak sepertinya lupa kalau tujuan dari parpol adalah tidak untuk memperebutkan kekuasaan atau menjadi penguasa. Partai harus bisa memimpin ataupun memerintah.

“Sehingga seharusnya tujuan partai bukan hanya menang. Karena itu tujuan yang palig egois. Tujuan partai seharusnya menghasilkan kebijakan yang baik. Ini yang agak kedodoran. Partai yang hanya mengandalkan artis dikuatirkan merupakan indikasi gagalnya pendidikan politik dan kaderisasi,” paparnya.

Rico juga memberikan contoh kalau Ronald Reagen yang juga seorang mantan artis mampu menjadi untuk bisa menguasai sebagai presiden Amerika Serikat. Sementara Presiden Filipina, Estrada mantan artis malah menjadi korupsi.

“Caleg artis harus membuktikan bahwa mereka akan menyibukkan masyrakat dengan prestasi, bukan dengan masalah pribadi,” kata Rico.

Rico juga memberikan suatu petunjuk kepada para caleg artis itu harus bisa berjuang membangun negara ini tidak hanya menjadikan maskot pada partai tersebut. Caleg artis juga sebaiknya tidak ‘nyambi’ lagi dengan kerjaan artis, harus fokus menjadi tokoh politik.

“Ini memberi kesan seakan tidak mau rugi dan lebih seringnya membuat mereka abai,” tutupnya.

“Data anggota DPR periode 2009-2014 menunjukkan banyak caleg dari kalangan artis yang tumbang dan gagal menjadi anggota dewan.

”Bahkan anggota dewan dari kalangan artis tidak sampai 5 persen dari total anggota dewan. Dan secara umum mereka tidak ditempatkan di komisi-komisi strategis,” paparnya.

Arya telah mengatakan kalau  evaluasi terhadap anggota dewan yang juga harus dilakukan secara menyeluruh. Tidak terbatas untuk para artis saja, akan tetapi semua calon legislatif harus bisa mengerti  tugas yang akan mereka lakukan di negara ini.

“Partai sebenarnya pragmatis saja dengan memilih artis menjadi anggota dewan. Pragmatisme partai itu tampak dengan menempatkan kalangan artis di dapil-dapil panas atau di dapil-dapil yang bukan basis politik partai. Tujuannya adalah untuk memecah suara dan untung-untung bisa mendapatkan kursi. Secara umum, jarang artis yang ditempatkan satu dapil dengan kader potensial partai yang notabene merupakan basis partai,” kata Arya.

“Jadi mampu atau tidaknya artis tergantung komitmen partai untuk benar-benar membekali para artis dengan pengetahuan-pengetahuan tentang kelegeslasian. Partai yang hanya gunakan artis untuk dongkrak suara tanpa mempersiapkan kecakapan artis bila terpilih adalah partai yang tak bertanggungjawab,” tutupnya.

 

About The Author

Reply