Berita Terbaru Indonesia – Melawan Kekuatan Jahat Melalui Ogoh-ogoh

 

Dalam setiap perayaan untuk menyambut Hari Raya Nyepi, biasanya dilakukan parade ogoh-ogoh. Begitu pula yang dilakukan di Tegallalang, Gianyar, Bali pada Minggu (10/3/2013). Terdapat sekelompok pemuda yang mengarak ogoh-ogoh yang merupakan hasil karya mereka. Ogoh-ogoh sendiri merupakan boneka raksasa yang melambangkan sifat buruk. Dimana ogoh-ogoh tersebut kemudian diarak berkeliling desa. Hal ini untuk menetralisasi kekuatan negatif atau kekuatan Bhuta atau kekuatan alam yang ada di desa tersebut.

Ogoh-ogoh yang dibuat pada saat perayaan Nyepi pada dasarnya sebagai perwujudan Bhuta kala yaitu berbagai unsur alam yang terdiri dari air, api, cahaya dan udara. Nah, semua unsur tersebut kemudian digambarkan dalam bentuk yang besar dan menyeramkan seperti yang terlihat dalam ogoh-ogoh yang biasa dilihat selama ini.

Perayaan Ogoh-ogoh tersebut juga tidak hanya dilakukan di Bali saja namun juga di daerah lain. Seperti yang terlihat di Semarang adanya ogoh-ogoh Buto Ijo yang diarak umat Hindu melintasi jalan. Dalam pawai tersebut ditampilkan empat sosok ogoh-ogoh yang menceritakan seputar awatara atau penelmaan Tuhan untuk menyelamatkan dunia. Begitu pula yang dilakukan oleh umat Hindu di Mataram yang selalu menggelar pawai ogoh-ogoh sebelum perayaan Hari Raya Nyepi, di lansir Ruangkabar.com

Sementara itu di Bali yang biasanya selalu ramai oleh wisatawan kali ini terlihat lenggang. Hal ini semata-mata karena pada saat Nyepi memang tidak diperkenankan keluar dari kediaman masing-masing. Begitu pula yang terjadi pada para wisatawan yang tidak diperkenankan untuk keluar dari area hotel.

Inilah yang disebut dengan tapa brata penyepian. Dimana seluruh penghuni pulau Bali sama sekali tidak diperbolehkan untuk menyalakan lampu dan menggunakan berbagai alat elektronik apapun. Saat Nyepi, para umat Hindu tidak melakukan empat hal yaitu amati geni atau tidak menyalakan api atau lampu, amati karya atau tidak bekerja, amati lelungan atau tidak berpergian atau keluar rumah dan amati lelaguan atau tidak bersenang-senang.

Sehingga bisa dipastikan suasana gelap gulita terjadi dimana-mana. Selain itu sejak pagi para umat Hindu tidak kemana-mana dan hanya mengurung diri di rumah. Begitu pula para penghuni hotel. Mereka juga tidak diperbolehkan menikmati siaran televisi.

 

 

 

No related content found.

Be Sociable, Share!