Berita Terkini – Indonesia Berhasil Temukan Alat Pengubah Plastik Menjadi BBM

 

Kemungkinan anda tidak percaya dengan apa yang sudah di temukan oleh orang yang baru saja gencar di media akhir – akhir ini. Munculnya alat pengubah sampah plastik  menjadi suatu bahan bakar minyak yang saat ini menjadi suatu kebanggaan dari negara kita.

Alat yang sudah membanggakan tersebut adalah buatan dari seorang bernama Danan Eko Cahyono salah satu supplier alat yang sudah bisa menyulap sampah dari jenis plastic menjadi bahan bakar minyak di Jawa Timur. Danan Eko Cahyono sudah akui Amerika maupun negara Rusia masih belum bisa mengembangkan alat tersebut. Namun Indonesia sudah lebih dahulu.

“Hanya di Indonesia di dunia yang punya teknologi mengubah sampai dari plastik menjadi BBM itu namanya alat biomass,” bangga Danan ketika dihubungi detikOto, Kamis (2/5/2013).

Menurut dirinya di Indoneisa sejak beberapat tahun yang lalu sudah mempunyai alat tersebut dan itu tersebar luas di seluruh pelosok Indonesia. Akan tetapi dalam pemasaran alat tersebut masih belum mendapatkan suatu perkembangan.

Dari sisi lain, Danan memberikan ungkapan lagi jika memang ada suatu rencana pemerintah saat itu untuk lebih serius lagi dalam mengembangkan alat tersebut maka Indonesia tidak akan ketergantungan dengan minyak bumi seperti sekarang ini. Sudah dapat di ketahui kalau saat ini BBM sangat langka, terutama bensin ataupun solar yang di setiap harinya menjadi kebutuhan penting.

Dari hal yang lainnya seperti yang dijelaskan Danan, bahan baku untuk membuat alat tersebut juga mudah sekali untuk di dapatkan. Bahan baku stainless steel dan besi lainnya bisa didapat dari dalam negeri tanpa mengendalkan bahan impor.

“Indonesia sejak lama ada teknologi mengubah plastik dan sampah lainnya menjadi BBM bensin dan solar. Pemasok teknologi, made Indonesia semua. Bahan dari Indonesia, seperti stainless steel. Dan hanya Indonesia yang punya alat tersebut,” ucapnya.

Namun lanjut Danan, teknologi tersebut kini sudah mulai menyebar ke negara lain karena di Indonesia tidak bermanfaat. “Tapi kini di Rusia sudah ada dan itu pun baru. Indonesia susah, ada yang lebih besar lagi,” keluhnya.

 

No related content found.

Be Sociable, Share!