Berita Terkini – Mayang Ternyata Menjadi Tulang Punggung Keluarga

Untuk selama ini, memang dari Mayang Prasetyo yang sudah di ketahui menjadi korban pembunuhan tragis, dimutilasi berada di Brisbane, Australia ternyata dirinya adalah tulang pungung bagi keluarganya. Kematian dari Mayang sendiri sudah membuat dari keluarganya sangat kehilangan saat ini.

Ibu dari mayang sendiri, Nining Sukani mengakui sangat terpukul karena telah karena telah kehilangan dari anak sulungnya yang mempunyai nama kecilya Febri tersebut. Anggapan dari Nining, Mayang memang selalu rutin untuk mengirim uang  kepada keluarganya yang berada di Indonesia untuk bisa membantu keluarganya, termasuk dari biaya pendidikan dua saudara perempuan yang saat ini berusia 18 tahun dan 15 tahun.

“Dirinya yang sudah membiayai sekolah kedua saudara perempuannya,”ujar dari Nining Sukarni yang sudah di sebutkan kepada The Courier-Mail Australia, di Lampung, Senin (6/10/2014) kemarin.

Sukarni sudah memberi ungkapan, Mayang akhir akhir ini menghubunginya di hari kamis kemarin. Di saat itu Mayang akui masih baik-baik saja dan tidak memberikan tanda-tanda bahaya dan kecemasan yang ada di sana.

Lebih dari itu, Sukarni yang sudah tidak menyangka kalau pasangan atau suami Mayang telah tega untuk melakukan tindakan keji seperti itu. Seperti anggapan darinya, Marcus Volke yang sudah pernah mengunjungi Indonesia untuk tahun lalu. Dirinya yang sudah berperilaku tenang dan baru saja mulai bekerja di sebuah restoran Brisbane.

Sebelum pada akhirnya menikah bersama dengan Volke berada di luar negeri untuk bulan Agustus 2013 silam. Mayang ingin restu dari ibunya Sukarni.

Akan tetapi,kata Sukarni akhir akhir ini Mayang keluhkan semakin bosan dan ingin bisa pulang ke Bali lagi, di mana dari pasangan tersebut mempunyai rumah di sana.

Seperti yang sudah di katakan Sukarni,Mayang yang sudah bercerita bahwa dari suaminya sosok pria yang sangat mudah cemburu.Volke juga temperamental di setiap kali Mayang inginkan untuk bisa tinggalkan Brisbane.

“Febri (nama asli Mayang) yang memang tidak merasa betah berada di Brisbane. Bagaimanapun dirinya bisa berusaha, akan tetapi rasa tidak nyaman di sana hilang,” ujar dari Sukarni.

“Saya sering kalinya memberikan motivasi kepada dirinya untuk bersabar berada di sana, jangan terus bertengkar,” tambahnya lagi.

About The Author