Bisnis dan Ekonomi – Indonesia Akan Keluarkan Rumah Kredit Bagi Pekerja Informal

 

Dari masyarakat yang mempunyai penghasilan yang rendah khusus mereka yang bekerja di sektor informal kini tidak perlu lagi untuk merasakan cemas dalam membeli rumah secara kredit. Pemerintah akan mempermudah pekerja sektor informal agar bisa meng-kredit rumah dengan melalui bank yang di tunjuk.

Sampai saat ini pekerja sektor informal masih belum bisa dapatkan kredit rumah, karena mereka bankable. Para pekerja sektor informal antara lain yaitu tukang bakso, tukang ojek, dan juga pembantu rumah tangga (PRT) dan masih banyak yang lain.

Deputi bidang Pembiayaan Kementerian Perumahan Rakyat, Sri Hartoyo memberikan ungkapan, para pekerja sektor informal sebagian besar tidak bankable. Bank pelaksana kredit, atau Bank KPR memberikan syarat jaminan bagi mereka yang ingin memiliki rumah, sedangkan pekerja informal tidak mempunyai suatu syarat tersebut

“Sektor informal tidak lagi bankable. Yang paling pentin yaitu KPR itu dia disiplin untuk mengatur, itu salah satu konsep dari bank pelaksana. Sebenarnya jika masalah jaminan itu yang paling penting,” jelas Sri dalam acara temu wartawan di Kantor Kementerian Perumahan Rakyat, Jumat (10/5/2013).

Maka dari itu, pemerintah akan memudahkan para pekerja sektor informal tersebut seperti tukang bakso, pembatu rumah tangga, atau para pekerja yang masih belum terikat dengan instansi tertentu untuk bisa dapatkan rumah tinggal baru.

“Upaya kita yaitu dengan akomodasikan biaya yang dibutuhkan dalam rangka KPR untuk sektor informal. Memang ada resiko yang harus di perhitungkan,” katanya.

“Saat ini pemerintah akan mem-backup resiko tadi misalnya untuk biaya overhead angsuran, penjaminan atas resiko penundaan bahkan kegagalan  bayar,” jelasnya.

Baru ada ungkapan dari Sri, bahwa sistem pembiayaan kredit rumah pekerja informal akan di samakan dengan pekerja formal, baik besar bunga sebesar 7,25%, tenor pinjaman 20 tahun, dan harga rumah maksimum Rp 95 juta. Namun ada yang membedakan yaitu sistem pembayaran.

“Jadi jika yang formal itu di hitung bulanan, yang informal menjadi harian. Angsuran harian itu kan harus dijemput, kita ke depan akan lakukan itu. Mungkin kita akan kombinasikan dengan Tapera (Tabungan Perumahan Rakyat),” tutupnya.

 

Be Sociable, Share!