Bisnis dan Ekonomi – Nilai Perusahaan Apple ‘hanya’ US$ 506,85 miliar

Anjloknya saham Apple Inc. Menyebabkan pasar saham Wall Street berakhir mixed atas koreksi tajam di Indeks Nasdaq. Saham perusahaan termahal di dunia tersebut menderita koreksi yang sangat tajam. Hal itu merupakan masa terburuk dalam empat tahun terkahir. Saham Apple sendiri sudah jatuh lebih dari 20 persen dari posisi tertingginya pada September lalu. Koreksi tersebut dikabarkan terjadi menyusul adanya laporan beberapa analisis bahwa pangsa pasar Apple di sektor komputer tablet terus menurun. Adanya koreksi tersebut membuat Apple kehilangan kapitalisasi pasar sebanyak US$ 35 miliar atau setara dengan Rp 332, 5 triliun hanya dalam sehari. Sehingga nilai perusahaan yang didirikan almarhum Steve Jobs tersebut kini hanya bernilai US$ 506, 85 miliar atau setara dengan Rp 4. 815, 07 triliun.

“Pergerakan kali ini dibebani koreksi di salah satu indeks yaitu Nasdaq yang jatuh akibat koreksi saham Apple,” kata Kepala Investas dari Wilmington Trust, Rex Macey di Atlanta dalam Reuters pada Kamis (6/12/2012). Pada penutupan Rabu waktu setempat, Indeks Dow Jones sendiri menguat 82,71 poin atay 0,064 % ke level 13.034,49. Indeks Standard & Poors 500 bertambah 2,23 poin atau 0,16 ke level 1.409,28. Hanya Indeks Komposir Nasdaq jatuh 22,99 poin atau 0,77 % ke level 2.973,70.

Sementara itu optimisme pertumbuhan ekonomi China ternyata belum mampu mendorong indeks pasar saham Wall Street ke zona hijau. Pasar saham sendiri awalnya dibuka menyusul tingginya pertumbuhan industri China di November pertama kalinya tahun ini. Pertumbuhan ekonomi tersebut melewati AS dan Uni Eropa sehingga menebar optimisme akan mempengaruhi pasar saham Wall Street. Namun ternyata pertumbuhan ekonomi yang terjadi di China sama sekali tidak mempengarui pasar saham Wall Street. Pasar saham Wall Street sendiri terkena koreksi menyusul buruknya data produksi Amerika Serikat (AS).

Berbagai cara pun sudah dilakukan oleh pemerintah AS untuk mengembalikan saham-saham ke zona hijau. Misalnya dengan menguatnya saham-saham teknologi dan telekomunikasi. Namun hal tersebut ternyata hanya mampu meningkatkan meskipun hanya tipis dan itupun tidak berlangsung lama.

 

 

Bisnis dan Ekonomi

About The Author

Reply