Bisnis dan Ekonomi – Redenominasi Jangan Cuma Jadi Atribut

 

Program penyederhanaan nilai mata uang yang dicanangkan dan telah disosialisasikan oleh pemerintah, ternyata menimbulkan penafsiran berbeda bagi sejumlah pakar ekonomi. Redenominasi dinilai hanya sebuah ilusi yang dilakukan oleh moneter perbankan tanpa ada substansinya sama sekali.

Pendapat tersebut dilontarkan pakar ekonomi, Ahmad Ma’ruf. S.E., M.Si Senin (28/1) di Yogyakarta. Ia meminta pemerintah untuk tak hanya membuat proyek ini sebagai sebuah atribut semata. Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dan Bank Indonesia jangan hanya kegiatan yang bersifat lips service.

“Padahal tidak ada substansinya sama sekali. Itu lebih pada atribut saja, biar kelihatannya uang kita gagah, seperti di negara-negara lain. Kebijakan itu sebenarnya menutupi kelemahan yang menjadi tanggung jawab BI. Dan untuk menutupi kelemahan itu, dikeluarkan kebijakakan yang seolah-olah bagus,“ ungkap Dosen Ekonomi UMY ini.

Ahmad juga mencurigai adanya potensi untuk moral hasad dalam kebijakan redenominasi. “Moral hasad ini apa? Pasti akan ada pengglontoran dana yang tidak kecil untuk proyek ini. Dan disitu bisa saja ditunggangi oleh kebijakan-kebijakan pragmatis atau aksi-aksi pragmatis.,” jelasnya.

Ahmad juga mencontohkan kebijakan yang bersifat privatisasi, namun ternyata ada orang-orang tertentu yang diuntungkan dengan privatisasi tersebut. Dan ia mengkhawatirkan hal seperti ini akan terjadi dalam proyek redenominasi itu. Apalagi saat ini sudah menjelang pemilu 2014.

“Jadi, subtansinya tidak ada. Masyarakat mungkin nanti akan merasa senang dengan adanya kebijakan ini, melihat uang yang awalnya Rp. 10.000 menjadi Rp. 10 jadi bangga karena seperti negara-negara lain. Akan tetapi kebanggaan itu hanya kebanggaan semu. Kita baru bisa bangga kalau nilai tukar rupiah kita itu sudah bagus, kalau sekarang kan masih belum. Jadi, masyarakat harus cerdaslah dalam mengkritisi itu,” tuturnya.

Pakar ekonomi public ini juga menyarankan pada BI agar lebih memfokuskan pada masalah-masalah bangsa yang dihadapi saat ini. “Lebih baik BI fokus pada pengendalian inflasi dan perbaikan nilai tukar rupiah. Udah itu saja! Fokus pada mengelola sistem moneter perbankan, atau kejahatan-kejahatan yang menggunakan instrumen perbankan. Harusnya BI fokusnya ke situ, jangan yang aneh-aneh, karena ini juga biayanya mahal,” ujarnya.

 

 

Bisnis dan Ekonomi

Be Sociable, Share!