Fakta Politik Unik – Pasukan Nasi Bungkus

Terdapat sebuah hal unik menjelang hari pemilihan presiden serta wakil presiden tanggal 9 Juli mendatang, yaitu dengan kian maraknya kelompok cyber dari jagad maya. Fadli Zon, Wakil Ketua Umum dari Partai Gerakan Indonesia Raya,  menyebut satuan tersebut sebagai ‘pasukan nasi bungkus’ atau Panasbung dan laskar cyber bayaran. Lebih lanjut, Fadli Zon juga mengaku bahwa Partai Gerindra juga sering dijadikan sasaran dari kampanye hitam atau black campaign yang datang dari ‘pasukan nasi bungkus’ itu. Tak mau tinggal diam, pihak Gerindra pun juga sudah siapkan ‘cyber army’ tersendiri guna melawan efek serangan dari mereka.

“Gerindra pun berupaya guna mengimbangi menggunakan kampanye positif. Kami tak mau menyerang balik pada akun anonimitas, kecuali tertera nama yang jelas. Panasbung seperti ini kan menjadi sampah virtual saja. Jadi bila baliho merupakan sampah visual, maka panasbung tersebut membuat sampah virtual,” terang Fadli Zon, pada wartawan, hari Selasa (22/4/2014). Laskar ‘Panasbung’ sendiri muncul seiring dengan kian maraknya pemakaian media sosial, seperti halnya Facebook atau Twitter Indonesia semenjak tahun 2010 silam. Lebih jauh, pada 2012, pengguna situs Facebook Indonesia telah menempati deretan ke empat dunia. Sedangkan untuk pengguna Twitter ada dalam posisi kelima.

Rekor yang tertinggi adalah jumlah posting dari pengguna Twitter yang ditempati oleh Jakarta dan sekaligus mengalahkan ibukota lain seperti London, Tokyo, Sao Paulo serta New York. Kemudian apa hubungannya antara media sosial dan gelaran pilpres? Clay Shirky, professor di New York University,  menyatakan bahwa media sosial merupakan salah satu cara guna membentuk opini publik. Dalam lingkup media sosial, berbagai kelompok masyarakat dapat saling berinteraksi satu sama lain, bahkan mengadakan gerakan seperti pembentukan opini seperti kampanye politik.

Seperti pada bidang marketing, peranan dari media sosial pada politik tidak dapat dipungkiri. Adanya pergolakan politik dari berbagai negara seperti halnya di Lebanon, Mesir, Libya, Syria dan Tunisia ternyata konon berawal atas kicauan Twitter. Dari Indonesia, PoliticalWave, sebuah lembaga yang memantau aktivitas jagad maya menyebutkan bahwa media sosial telah menjadi sarana untuk komunikasi politik efektif serta murah.

About The Author

Reply