Hidup Tak Sombong Ala Pohon Singkong

Hidup Tak Sombong Ala Pohon Singkong

Singkong diartikan miskin, ndeso dan juga tertinggal. Terlampau jika didudukkan bersama keju, produk barat. Waktu terus bergulir. Saat ini, di Indonesia bisa jadi singkonglah yang lebih populer dibandingkan keju.

Singkong dikenal bernama ketela, ubi pohon. Walau sering dilihat sebelah mata, singkong punya banyak manfaat. Terlebih lagi di tengah dinamika peradaban yang tak siap kita sadari, hidup tak menyombong ala pohon singkong juga perlu.

Semua bagian singkong berguna. Umbinya, sebagai sumber karbohidrat. Kulitnya sebagai pakan ternak. Para peneliti berinovasi menciptakan plastik organik dari ampas singkong. Daunnya diolah menjadi sayuran.

Pengalaman saat saya kecil. Kalau lari-larian dan terjatuh kulitpun lecet, ibu segera menumbuk beberapa daun singkong yang masih muda, kemudian dioleskan pada bagian luka. Sedikit terasa perih di awal, namun segera adem serta cepat kering.

Hanya dengan dilempar pasti akan tumbuh. Artinya, tidak perlu perlakuan khusus dan ribet untuk menanam singkong.

Batangnya mimiliki rata-rata panjang tiga meter. Bisa juga dipotong menjadi ukuran 20 cm, lalu ditanam pada tanah yang gembur. Dengan mudah akan tumbuh jadi pohon baru.

Mudah untuk ditanam, banyak dicari. Inilah sebab harga singkong yang relatif stabil. Walau banyak yang memburu, produsennya banyak.

Menjalani hidup keras, namun lembut di mulut. Di sepetak tanah bapak, batang singkong yang telah ditanam sekitar lima bulan dengan tabah mengakar ke dalam tanah.

Awalnya hanya sebongkah batang yang tak lebih dari 30 cm, dapat tumbuh mencapai 3 meter. Setelah penghujan, dia akan terus berjuang untuk menembus tandusnya tanah, dan menggembungkan akarnya dengan serat. Makin sedikit daunnya, makin berisi akarnya. Tandanya siap untuk dipanen.

Singkong bisa diparut, direbus ataupun dibuat tape. Jalan hidupnya kasar, namun bisa jadi lembut di mulut.

Selain itu, umbinya multi kreasi. Klepon, timus, lepet, tape, gethuk, gemblong cothot, ceriping, tiwul, gaplek, bubur telo, sawut, singkong goreng, singkong keju, peuyem, cenil, tela-tela. Masih bernyali melihat singkong sebelah mata?

Uang, kedudukan maupun kekuasaan bukan jaminan jadi sebuah berkat. Mari berguru pada singkong. Penampilan yang tidak menarik dan juga sering diremehkan, namun penuh manfaat. Tidak perlu bersensasi supaya orang mencari-cari.

“Siapapun boleh menjulang menjadi apa pun. Tetapi manfaatnya juga harus terasa hingga ke bawah, kepada orang-orang yang membutuhkan.”

Berita Terbaru

PenulisBerita@!!76798

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *