Ilmuwan Temukan Hal Aneh, Tidak Punya Air Bagaimana Bulan Bisa Berkarat?

Ilmuwan Temukan Hal Aneh, Tidak Punya Air Bagaimana Bulan Bisa Berkarat?

Bulan merupakan satelit Bumi yang diketahui tak memiliki material air atau benda cair lainnya. Namun, ada yang aneh dari penemuan para ilmuwan yang menunjukkan adanya oksidasi yang menyebabkan permukaan Bulan berkarat. Fenomena ini membingungkan para ilmuwan, sebab proses oksidasi seperti berkaratnya besi memerlukan peran air dan oksigen. Seperti dikutip dari Science Alert, Kamis (3/9/2020), para ilmuwan mendeteksi adanya hematit di Bulan, padahal hematit adalah bentuk besi yang teroksidasi dan di Bumi, proses ini membutuhkan udara dan air untuk terbentuk.

“Ini sangat membingungkan. Bulan adalah lingkungan yang mengerikan bagi terbentuknya hematit,” kata ilmuwan planet Shuai Li dari University of Hawaii di Manoa. Hematit yang dimaksud ditemukan dalam data yang dikumpulkan oleh pengorbit Chandrayaan-1 dari Indian Space Research Organisation, badan antarika India. Moon Mineralogy Mapper (M3) yang dirancang oleh Jet Propulsion Laboratory NASA menggunakan pencitraan hiperspektral untuk melakukan analisisi spektroskopi granular. Di mana pencitraan ini memberikan rincian detail dari komposisi mineral di permukaan Bulan.

Dengan cara ini, Li dan rimnya mengidentifikasi endapan es yang ada di garis lintang tinggi di sekitar kutub bulan pada tahun 2018. Akan tetapi, saat memeriksa data, Li melihat ada keanehan pada data tersebut. “Ketika saya memeriksa data M3 di area kutub, saya menemukan beberapa fitur dan pola spektral berbeda dari yang dilihat dari garis lintang yang lebih rendah atau dari sample Apollo,” kata Li. Li mengatakan ingin mengetahui apakah mungkin ada reaksi batuan air di Bulan. Sebab, setelah penyelidikannya selama berbulan-bulan, dia menemukan adanya tanda-tanda hematit di permukaan Bulan.

Ini menjadi petunjuk besar tentang bagaimana hematit ini terbentuk. Sebab, sangat sesuai dengan jejak air yang sebelumnya teridentifikasi. Para ilmuwan meyakini bahwa air es dapat bercampur dengan regolith bulan, dan digali serta dilelehkan selama peristiwa tabrakan. Seperti diketahui, Bulan terus-menerus dihantam dan dibombardir benda-benda langit dan aliran hidrogen dari angin yang dihembuskan Matahari. Zat pereduksi memungkinkan menyumbang elektronnya ke bahan yang dapat berinteraksi dengan zat tersebut dan oksidasi dapat terjadi karena hilangnya elektron. Hematit juga banyak ditemukan di sisi Bulan yang selalu menghadap Bumi. Itu menurut peneliti yang menjadi hal sangat menarik.

“Lebih banyak hematit di dekat Bulan menunjukkan mungkin itu ada kaitannya dengan Bumi,” ungkap Li. Asumsi itu mengingatkan Li pada penemuan misi Kaguya Jepang bahwa oksigen dari atmosfer atas Bumi dapat dihembuskan ke permukaan Bulan oleh angin Matahari saat Bulan berada di magnetotail Bumi. Jadi, menurut studi yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances ini, kemungkinan oksigen dari atmosfer Bumi dapat menjadi oksidan utama dalam menghasilkan hematit, yang membuat beberapa batuan di Bulan tampak berkarat. “Penemuan (batuan berkarat di Bulan) ini akan membentuk kembali pengetahuan kita tentang wilayah kutub Bulan. Bumi mungkin telah memainkan peran penting dalam evolusi permukaan Bulan,” ungkap Li.

Berita Terbaru

PenulisBerita@!!76798

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *