Info Kesehatan – Mengadopsi Anak Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup

 

Setelah menikah, pasangan suami istri pastinya mengidamkan seorang anak lahir untuk mengisi keluarga kecil mereka serta meneruskan garis keturunan mereka. Ada banyak pasangan yang setelah menikah cepat dikarunia anak, ada pula yang sangat sukar untuk mendapatkan seorang anak pasca pernikahan mereka. Bagi banyak pasangan yang sukar dalam mendapatkan keturunan dengan cara alami, ternyata banyak dari mereka memilih program IVF atau program bayi tabung untuk mendapatkan keturunan.

Mereka meyakini akan mendapatkan keturunan melalui progam IVF, namun sayangnya program IVF ini target terjadinya keberhasilan tidak begitu tinggi. Untuk beberapa pasutri yang sudah melakukan program IVF ternyata masih tidak beruntung untuk mendapatkan seorang anak.

Studi baru-baru ini menginformasikan bahwa untuk pasangan yang dulu pernah melakukan program bayi tabung namun masih belum berhasil mendapatkan momongan, kemudian pasangan tersebut mengadopsi anak untuk mereka rawat. Kenyataannya pasangan yang melakukan adopsi merasakan kebahagiaan yang dirasa lebih besar dibandingkan hanya menyesali nasib dan tidak melakukan apapun.

Dalam studi kasus ini, para peneliti melakukan pengamatan terhadap kualitas hidup sebanyak 979 pria dan wanita di beberapa klinik kesuburan di Sahlgrenska University Hospital, Skaraborg Hospital Skovde dan di sejumlah rumah sakit milik pemerintah di kota Boras dan Uddevalla, Swedia dimana mereka mengikuti program IVF selama 4 hingga 5,5 tahun.

Disini para peserta dibagi dalam empat kelompok. Kelompok pertama kelompok pasangan yang tidak berhasil menjalani program bayi tabung. Kelompok kedua merupakan kelompok yang berhasil mendapatkan ngkan kelompok yang momongan dengan program bayi tabung. Dua kelompok lainnya yaitu kelompok yang ketiga merupakan kelompok yang tidak memiliki masalah dengan kesuburan. Sedangkan kelompok yang terakhir, merupakan kelompok pasangan yang tidak berhasil mendapatkan momongan dengan jalan IVF namun akhirya memutuskan mendapatkan bayi dengan cara adopsi.

Ke empat kelompok peserta dalam studi ini juga dimintai untuk menyelesaikan dua kuesioner. Kuesioner ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi peserta mengenai ‘psychological general well being (PGWB)’ dan ‘sense of coherence (SOC)’. Para peserta juga dimintai keterangan tentang kondisi demografis, situasi sosio-ekonomi dan kesehatan mereka secara personal.

Dari pengamatan tersebut didapatkan hasil bahwa, kualitas hidup tinggi didapatkan dari dua indikator (PGWB dan SOC). Dimana dengan jelas diketahui, pasangan yang akhirnya memutuskan untuk mengadopsi anak setelah tidak berhasil mendapatkan momongan melalui program bayi tabung. Ternyata diketahui memiliki kualitas hidup yang lebih tinggi serta membahagiakan dari pasangan yang tetap tidak memiliki momongan.

Diketahui juga bahwa pasangan yang tidak berhasil dalm program bayi tabung untuk mendapatkan momongan dan setelah itu tidak mau melakukan usaha yang lain untuk mendapatkan momongan, maka dapat terlihat sebagai pasangan yang mempunyai tingkat kepuasan yang terendah.

Juga ditemukan oleh peneliti, bahwa pasangan yang telah mengadopsi anak ternayat dalam kehidupan kesehatannya lebih sedikit membutuhkan perawatan kesehatan, sedikit dalam konsumsi obat-obatan, sedikit tidak merokok dan peluang untuk terserang penyakit diketahui jauh lebih kecil dalam durasi waktu yang lama. Tidak demikian dengan kelompok yang lain.

Dikutip dari Telegraph pada hari minggu (5/5) profesor mengatakan bahwa,” Selama ini adopsi sendiri baru dipertimbangan oleh pasangan hanya ketika mereka gagal mengikuti program bayi tabung. Padahal studi ini menunjukkan pentingnya pasangan untuk mempertimbangkan adopsi seketika mereka mencari bantuan medis ketika divonis mandul, terutama karena sekarang kita tahu bahwa adopsi dapat meningkatkan kualitas hidup.”

 

Be Sociable, Share!