Internasional – Bom Meledak di Sebuah Pasar di Filipina

 

Media berita Filipina melaporkan setidaknya 12 orang tewas dalam sebuah serangan bom di kota tempat tinggal asal Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. Puluhan orang lainya mengalami luka-luka dalam ledakan yang terjadi di sebuah pasar di kota Davao bagian selatan.

Seorang juru bicara kepresidenan mengatakan bahwa pihak penyidik telah menemukan pecahan peluru dari mortir berbasis alat peledak yang telah di improvisasi di lokasi kejadian. Pihak kepolisian ibukota Manila telah mencanangkan siaga tinggi setelah terjadinya sebuah ledakan yang mematikan, setidaknya 60 orang terluka dan 30 diantaranya telah dirawat di rumah sakit.

Ledakan ini terjadi di luar Hotel Marco Polo di wilayah yang sering dikunjungi oleh presiden Duterte yang terletak di kota Davao. Sebuah gambar yang dirilisi media setempat menunjukkan sejumlah pecahan kaca dan kursi plastik tersebar berserakan di lokasi ledakan, yang setelah itu area ledakan telah ditutup oleh pihak kepolisian dari divisi penyelidikan dan penjinak bom.

Wakil walikota setempat yang seorang anak sulung dari presiden Rodrigo Duterte, Paolo Duterte mengeluarkan pernyataan di dalam beranda Facebook pribadinya di mana ia mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk menentukan siapa yang berada di balik serangan bom tersebut, tapi ia bersikeras meyakini bahwa pemerintah berada di balik kejadian ini.

Kepala Polisi Regional setempat, Manuel Guerlan mengatakan bahwa ia telah memerintahkan anak buuahnya untuk membuat pos pos pemeriksaan di setiap jalur keluar masuk kota.

“Sebuah penyelidikan menyeluruh sedang dilakukan untuk menentukan penyebab dari ledakan tersebut, dan kami menyerukan kepada setiap orang untuk selalu waspada,” kata Manuel Guerlan.

Beberapa daerah di Filipina telah berada dalam peringatan keamanan tinggi dalam beberapa pekan terakhir akibat serangan pihak militar yang dilakukan terhadap kelompok militan jihad yang dipimpin oleh Abu Sayyaf.

Pada hari Senin (28/8) kemarin, setidaknya 12 tentara dari militer Filipina tewas dalam sebuah pertempurann sengit dengan kelompok militan yang menjadi insiden paling mematikan bagi pasukan militer Filipine semenjak terpilihnya Presiden Rodrigo Duterte pada bulan Mei silam.

Terpilihnya Duterte menjadi presiden ini telah mendorong lonjakan kasus pembunuhan terkait narkoba, dengan lebih dari 2.000 kematian sejak ia menjabat pada 30 Juni yang lalu.

Be Sociable, Share!