Kabar Baru Dunia – Beberapa Pria Bertopeng Meneror Anak-Anak Pengungsi Di Swedia

Ada banyak orang yang bergerombol dan berkelompok kini sudah berhasil untuk di tangkap berada di Stockholm setelah mereka menyebarkan adanya beberapa pamflet yang memberikan suatu ancaman. Di dalam isi pamflet lembaran itu, sudah di ketahui kalau para kelompok itu akan bisa melakukan hukuman kepada anak-anak jalanan para pengungsi dan pencari suaka berasal dari Afrika Utara beradad i Swedia.

Dari pihak keamanan yang sudah menyebutkan salah seorang pria telah di tahan disebabkan berani untuk menentang polisi sementara yang lainnya di tahan disebabkan menggunakan topeng dan berlagak misterius berada di tempat umum. Berada di Swedia jika menggunakan topeng berada di tempat umum menjadi tindakan ilegal. Hal ini disebabkan di anggap menjadi penganggu sosial dan lingkungan sekitar.

Berasal dari juru bicara kepolisian yang menyebutkan kalau gerombolan pria ini sudah di duga sengaja berkumpul dan mempunyai suatu tujuan ingin bisa menyerang kepada anak-anak para pencari suaka atau pengungsi.

Melihat kabar berasal dari surat kabar Aftonbladet, ada lebih dari 100 pria yang menggunakan topeng berbaris dan berjalan bareng menuju berada di pusat kota Stockholm untuk hari Jumat malam kemarin sambil untuk sebarkan beberapa pamflet yang mempunyai tulisan kalau mereka ingin memberikan hukuman kepada anak-anak Afrika Utara yang sudah berkeliaran dengan hukuman yang lebih pantas.

Berdasarkan dari keterangan polisi, kelompok itu adalah gerombolan hooligan yang berhubungan dengan tim Stockholm sepak bola di sana.

Adapun dari aksi tersebut sudah di duga menjadi suatu aksi balasan akan pembunuhan dari relawan imigran yang di lakukan oleh salah satu seorang pencari suaka. Seperti Alexandra Mezher masih berusia 22 tahun sudah di bunuh dengan di tusuk sampai dirinya tewas.

Mengerti dari kematian wanita tersebut memberikan pertanyaan besar akan kacaunya dan penuhnya kondisi berada di pusat penampungan pengungsi berada di Swedia. Banyak dari mereka telah trauma akan terjadinya perang.

About The Author