Kabar Dunia Terhangat – Biksu Myanmar Merasa Geram Media Menyudutkan Mereka

Dari beberapa rombongan biksu garis keras dari Myanmar yang telah menggelar suatu unjuk arasa berada di kota Yangon. Mereka yang sudah memberikan protes dari kebijakan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang sudah menekan pemerintahnya menampung kembali dari etnis muslim Rohingya. Beberapa biksu nasionalis ini menilai kalau Rohinya semenjak awal adalah seorang imigran. Tidak ada suatu kewajiban untuk Myanmar untuk bisa menampung kembali orang asing yang saat ini masih terombang-ambing berada di laut.

Berdasarkan dari laporan televisi Channel News Asia memberikan laporan di hari kemarin Rabu (28/5/15) aksi yang sudah berjalan berada di hari tersebut sudah di ikuti dari ratusan biksu sambil berunjuk rasa dan membawakan sebuah spanduk. Salah satu tulisan protes yang sudah dibaca seperti, “ pendukung orang Rohingya adalah musuh kami”.

Dari beberapa biksu yang sudah tergabung berada di dalam gerakan ultrakonservatif 969 ini sekaligus memberikan kritikan kepada beberapa media internasional yang sudah menyudutkan kepada negara Myanmar. Seperti tanggapan dari mereka, yang telah bersalah dalam penyelundupan dari orang lebih dari 8 ribu imigran di sekitaran Asia Tenggara adalah Bangladesh.

Berada didalam suatu keterangan dalam persnya, biksu radilah sebutkan kalau orang-orang Rohingya itu berasal dari Bangladesh, bukan asli dari Myanmar.

Tokoh Biksu radikal yang bernama, AshinWirathu juga memberikan dukungan kepada adanya unjuk rasa tersebut. Akan tetapi sampai saat ini masih belum jelas apakah dirinya akan mengukuti jalan kaki dari jalan utama Yangon dan menuju ke stadion utama di pusat kota.

“Adapun masalah manusia yang berada di dalam perahu tersebut disebabkan karena ledakan penduduk yang berada di Bangladesh,” terang dari Wirathu menjelaskan kepada media Myanmar Times untuk hari kemarin.

Berdasarkan dari data terakhir, didapatkan oleh Badan Penanggulangan Pengungsi PBB (UNHCR), saat ini masih ada lebih dari 4000 imigran, termasuk dari anak-anak dan wanita yang masih berada di atas perairan Laut Bengal. Dari mereka yang masih menunggu untuk di izinkan bisa masuk ke Malaysia dan Thailand.

About The Author