Kabar Ekonomi dan Bisnis – Dampak Kebijakan Ekspor, Ternyata Freeport Mengancam Akan Pangkas Produksi

 

Freeport Indonesia akan memastikan akan ada penurunan produksi salah satu dampak pemangkasan yang telah dilakukan. Hal itu adalah buntut dari adanya kebijakan yang baru dari pemerintah dari sector pertambangan, setelah dari perusahaan urung untuk mengajukan perpanjangan izin ekspornya.

Dari Riza Pratama selaku juru bicara Freeport telah mengatakan bahwa pemangkasan produksi memang akan dilakukan didalam waktu dekat ini. “Tertundanya ekspor konsentrat tembaga sudah mengakibatkan Freeport akan mengambil tindakan guna mengurangi produksi di alam waktu dekat ini,” jelas Riza seperti yang telah dilansir dalam cnnindonesia.com pada hari Kammis, 09/02/2017.

Lebih lanjutnya dia menjelaskan juga bahwa penurunan operasional itu telah mengakibatkan adanya utilasi produksi yang menurun yaitu menjadi 40% dari kapasitas normalnya. Permasalahannya, kapasitas yang telah dimiliki PT Smelting ada di dalam memurnikan konsentrat Freeport dan hanya 40% dari produksi perusahaan.

“Kami akan menyesuaikan dengan adanya kkapasitas domestic yang telah bersedia ada di Smelting yang telah memurninkan sekitar 40% dari sebuah produksi konsentrat Freeport,” jelas Riza.

Freeport tak dapat melanjutkan ekspor setelah adanya terhalang pada peraturan Menteri energy dan juga Sumber Daya Mineral atau ESDM no 6 th 2016 sebagai sebuah aturan turunan yaitu dari PP Nomor 1 th 2017.

Beleid telah menyebutkan izin ekspor bisa diberikan dengan sebuah catatan izin usaha yang berbentuk Kontrak karya yang berubah menjadi izin Usaha Pertambangan Khusus atau IUPK. Freeport akhirnya meminta adanya sebuah perubahan status menjdi IUPK. Tapi, perusahaan telah meminta kepastian fiscal yang mengikuti kontrak yang sebelumnya dan enggan untuk mengikuti sebuah ketentuan perpajakan yang telah berlaku.

“Kami akan bersedia konveksi jadi IUPK, jika disertai adanya perjanjian stabilitas investasi yang bagi jaminan kepastian hukum dan juga fiscal,” jelasnya.

Jika sebuah perusahaan tak melakukan eksport, maka induk usaha dari Freeport Indonesia akan mengancam untuk mengurangi  tenaga kerja, telah menahan investasi pertambangan yang ada di bawah tanah, dan dengan mengurangi produksi akan menajdi 40% dari sebuah kapasitas total guna sesuai dengan adanya kapasitas yang telah dimililki itu.

Dan bahkan, Freeport telah menjadi ragu guna melanjutkan pembangunan smelter, namun pemerintah tidak segera akan mengeluarkan adanya izin itu.

Be Sociable, Share!