Kabar Ekonomi – IMF Peringatkan Negara Kaya Untuk Menghadapi Urgensi Dalam Perubahan Iklim

International Monetary Fund (IMF) telah memperingatkan negara-negara terkaya di dunia utnuk memiliki rasa urgensi yang lebih besar tentang perubahan iklim. Hal ini dilontarkan sehari setelah mantan perdana menteri Australia, Tony Abbot menyampaikan sebuah pidato aneh kepada sebuah kelompok masyarakat yang berbasis di London yang mengklaim bahwa perubahan iklim akan memberikan sesuatu yang bagus.

Prospek Ekonomi Dunia terakhir IMF (WEO) yang dirilis semalam, telah mendedikasikan keseluruhan bab untuk dampak dari guncangan cuaca dan perubahan iklim terhadap aktivitas ekonomi secara global.

Ini memperingatkan untuk menghadapi perubahan iklim akan menjadi salah satu tantangan mendasar di abad ke 21 dan menyerukan masyarakat global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebelum mereka menciptakan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki lagi, serta mengatakan bahwa negara-neagara yang kaya harus membantu negara-negara yang berpenghasilan rendah beradaptasi untuk meningkatkan suhu dengan cepat.

Secara langsung bertentangan dengan salah satu argumen dari Abbot, bahwa kontribusi Australia terhadap emisi global begitu kecil sehingga tidak layak untuk merestrukturisasi ekonominya untuk mengubah energinya secara signifikan, IMF mengatakan bahwa negara-negara yang memiliki perekonomian yang berkembang seperti Australia, salah satu penghasil per kapita negara tertinggi di dunia, memiliki tanggung jawab untuk bertindak.

“Pertumbuhan ekonomi yang maju dan berkembang telah menyumbang sebagian besar dari perubahan iklim yang sebenarnya dan yang diproyeksikan,” kata laporan tersebut. “Membantu negara-negara berkembang berpenghasilan rendah mengatasi konsekuensi perubahan iklim adalah sebuah perintah kemanusiaan dan kebijakan ekonomi global yang baik yang membantu mengimbangi kegagalan negara untuk sepenuhnya menginternalisasi biaya emisi gas rumah kaca.”

“Sejak pergantian abad ke 20, suhu permukan rata-rata bumi telah meningkat secara signifikan. Pergeseran ukuran yang besar pada suhu global biasa terjadi dalam waktu lama, seperti fluktuai masuk dan keluar dari Abad Es. Namun kecepatan di mana iklim telah berubah selama 30-40 tahun terakhir tampaknya belum pernah terjadi sebelumnya dalam 20.000 tahun terakhir,” tambahnya.

“Perubahan iklim adalah eksternalitas global yang negatif yang berpotensi menimbulkan bencana dan hanya tindakan kolektif dan kerja sama multilateral yang dapat mengatasi penyebab dan konsekuensinya secara efektif,” pungkasnya.

About The Author