Kabar Ekonomi – Tunggak Rp 1,8 miliar, 7 Eleven Diseret Menuju Meja Hijau

 

Pengadilan Niaga Jakpus telah menggelar perkara perdanada atas Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang (PKPU) yang telah diajukan pada PT Modern Sevel Indonesia selaku pemegang waralaba gerai 7 Eleven.

Jaringan dari swalayan makanan serta minuman tersebut, telah digugat dua krediturnya, yaitu PT Kurniamitra Duta Sentosa serta PT Soejach Bali pada tanggal 14 Agustus 2017 dengan no perkara 115 / Pdt.Sus-PKPU/ 2017/PN Jkt. Pst.

Kedua perusahaan itu merupakan pemasok barang atau supplier yang sudah bekerjasama dengan 7 Eleven semenjak pertama kalinya berdiri di Indonesia.

Pada sidang perdana, telah terungkap apabila MSI telah mempunyai utang mencapai Rp 2 miliar. Utang tersebut senilai Rp 261 juta pada Kuniamitra Duta Sentosa serta Rp 1,8 miliar pada Soejach Bali. Utang tersebut telah jatuh tempo September 2016 silam.

“Mulai itu macet, jatuh temponya juga pada bulan itu. sehingga, sudah jadi faktur kan. Faktur tersebut bisa ditagih satu bulan sesudah tukar faktur,” kata Fitri Safitri selaku kuasa hukum penggugat pada PN Jakarta Pusat pada Senin 28/8/2017.

Sedangkan Hotman Paris Hutapea selaku kuasa hukukm MSI, telah meyakini apabila kliennya masih sanggup untuk bisa melunasi tunggakan, meski pun pembayarannya tak bisa maksimum. Pada saat ini, aset – aset yang dimiliki MSI juga masih utuh serta belum tersentuh, beber Hotmt Paris.

“Pemohon telah mengakui utangnya. Namun, keseluruhan utang kan gede, saya ya belum bisa untuk ngomongnya sekarang, pastinya kan sudah miliaran,” tambah Hotman.

Masih menurut Hotman, MSI juga ingin mengajukan perdamaian kepada penggugat supaya permasalahan utang tersebut bisa dilakukan dengan bisnis. Hal tersebut memang harus dilakukan, sebab kliennya memang sudah tak mempunyai kontrak lagi bersama induk 7 Eleven yang berada di luar negeri.

“Franchise kan sudah diputus sama 7 Eleven luar negeri. Sekarang kan sudah enggak ada apa – apa, berarti seharusnya dicari proposal lain guna melakukan pembayaran ini. tentu kan harus direstrukturisasi terlebih dahulu. Apabila enggak, itu dari mana. Itulah manfaat usulan perjanjian perdamaian,” jelasnya.

Pada tahapan selanjutnya, MSI pun harus mengajukan proposal perdamaian ataupun restrukturisasi utang. Apabila ajakan damai nanti dikabulkan, maka pada waktu 45 hari kedepan, MSI akan melakukan perundingan bersama para kreditur.

Be Sociable, Share!