Kabar Internasional – AS Menolak Mantan PM Palestina Menjadi Utusan PBB

 

Amerika Serikat telah memblokir pengangkatan dari Salam Fayyad selaku mantan Perdana Menteri Palestina untuk menjadi utusan PBB menuju Libya. Nikki Haley selaku Dubes Amerika Serikat untuk PBB telah membeberkan apa yang menjadi alasan dari Amerika Serikat melakukan pemblokiran itu.

Pada sebuah pernyataan, Nikki telah menyebutkan bahwa dirinya tidak memberikan dukungan dalam penunjukkan ini sebab Palestina saat ini tidak memiliki keanggotaan secara penuh. Itulah salah satu yang telah membuat Amerika Serikat merasa keberatan dengan penunjukkan kepada Salam Fayyad.

Antoni Guterres selaku Sekretaris PBB telah memberitahukan bahwa dewan keamanan atas niatannya kan mengirimkan Fayyad untuk menjadi utusan khusus menuju Libya. Tujuan dari penugasan tersebut ialah untuk membantu pembicaraan terkait kesepakatan politik yang pada saat ini tengah goyang pada negara tersebut.

Sebagaimana yang telah dilansir dari kantor berita The Guardian pada Sabtu 11/2/2017, Haley telah menuturkan bahwasannya AS merasa begitu kecewa setelah mengetahui surat Guterres itu.

“Sudah terlalu lama bagi PBB tak adil bila mendukung otoritas Palestina serta malah melakukan hal tersebut. itu tentu saja menjadi kerugian bagi sekutu kami pada Israel,” ungkap sang dubes.

Dirinya pun menyatakan bahwa untuk kedepannya, Amerika Serikat akan bertindak secara tegas pada PBB. Tentu saja untuk memberikan dukungan pada sekutu mereka, Israel. Amerika Serikat tidak akan gegabah dalam memberikan dukungannya.

Sekjen PBB pun telah memberikan waktu pada dewan keamanan sampai dengan Jum’at untuk bisa mempertimbangkan pilihannya. Tentu saja, Amerika Serikat menjadi yang paling depan pada pengajuan keberatan apabila Fayyad tetap diberikan kepercayaan.

Salam Fayyad merupakan mantan Perdana Menteri Palestina yang pernah menjabat pada tahun 2007 sampai dengan tahun 2013. Dirinya pun telah menjabat dalam dua kali kesempatan menjadi Menteri Keuangan Palestina.

Fayyad juga telah didaulat untuk menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh Martin Kobler yang berasal dari Jerman guna menjadi utusan khusus menuju Libya. Namun ternyata hal itu telah mendapatkan penolakan dari Amerika Serikat. Sampai dengan saat ini, masih belum ada kesepatan baru setelah adanya penolakan dari Amerika Serikat tersebut.

Be Sociable, Share!