Kabar Internasional – Korut Belum Siap Untuk Adakan Pembicaraan Dengan Korsel

Para politisi dari dua negara yang bersitegang, Korea Utara dan Korea Selatan tidak akan mengadakan pertemuan langsung. Mengenai program nuklir dan rudal Pyongyang di Rusia pada hari Senin (16/10) meski menghadiri acara yang sama, kantor berita Rusia mengatakan pada hari Minggu (15/10).

Pemimpin majelis tinggi parlemen Rusia senat Valentina Matviyenko akan membicarakan masalah ini dengan wakil kepala badan legislatif Korea Utara dan kepala parlemen Korea Selatan secara terpisah di sela-sela kongres anggota parlemen pada hari Senin (16/10) di St Petersburg, TASS mengutip seorang anggota parlemen senior Rusia mengatakan pada hari Sabtu.

Saat itu TASS mengutip seorang anggota parlemen Rusia bahwa Moskow akan meminta kedua negara tersebut untuk melakukan pembicaraan langsung guna mencoba mempersempit perbedaan mereka, sehingga ketegangan selama ini berusaha untuk diredam.

“Kedua pertemuan tersebut akan berlangsung pada 16 Oktober,” kata TASS mengutip pernyataan Konstantin Kosachev, kepala komite hubungan internasional Senat seperti disadur dari Reuters, Minggu (15/10/2017)

Akan tetapi pada hari Minggu kantor berita RIA mengutip Wakil Ketua Majelis Tinggi Rusia, Piotr Tolstoi dan seorang anggota delegasi dari Korea Utara yang tidak mau disebutkan namanya beliau menegaskan bahwa tidak akan ada pembicaraan langsung.

Salah seorang delegasi Korea Utara yang mengatakan bahwa tekanan AS pada Pyongyang dan AS pada latihan militer Korea Selatan beranggapan bahwa prasyarat untuk perundingan semacam itu belum terpenuhi.

“Saya percaya bahwa selama pertemuan tersebut pihak Rusia akan meminta (Korea Utara dan Korea Selatan) untuk mengadakan kontak langsung. Ini akan sangat alami, tapi tentu saja kita tidak bisa, dan seharusnya tidak memaksa siapa pun untuk melakukannya,” kata Kosachev kepada TASS.

Percobaan nuklir dan rudal Korea Utara telah menimbulkan kekhawatiran dunia dan mendorong beberapa putaran sanksi internasional di Dewan Keamanan PBB.

Rusia dan China mendukung rencana de-ekskalasi, melihat Korea Utara menunda program rudal balistiknya dan Amerika Serikat serta Korea Selatan secara bersamaan mengumumkan moratorium latihan perang rudal skala besar. Kedua gerakan tersebut bermaksud untuk mencari solusi guna melaksanakan perundingan multilateral.

About The Author