Kabar Internasional – Laporan PBB Merinci Upaya Brutal Myanmar Untuk Mengusir Rohingya

Pasukan keamanan Myanmar telah mengusir setengah juta Muslim Rohingya dari negara bagian Rakhine Utara. Dengan membakar rumah, tanaman dan desa mereka untuk mencegah mereka kembali, hal ini dilaporkan oleh Hak Asasi Manusia PBB yang mengatakannya pada hari Rabu (11/10).

Jyoti Sanghera, Kepala dari kantor hak asasi manusia untuk wilayah Asia dan Pasifik, meminta pemimpin Myanamr, Aung San Suu Kyi untuk menghentikan kekerasan dan menyarakan ketakutan bahwa jika pengungsi Rohingya tanpa kewarganegaraan kembali dari Bangladesh yang mungkin akan diasingkan.

“Jika desa-desa hancur total dan kemungkinan penghidupan telah hancur, yang kita takuti adalah mereka dipenjara atau ditahan di kamp-kamp,” katanya dalam sebuah briefing berita. Juru bicara PBB, Stephane Dujarric mengatakan bahwa Kepala urusan politik PBB, Jeffrey Feltman dijadwalkan mengunjungi Myanmar pada hari Jumat (13/10).

Dalam sebuah laporan berdasarkan 65 wawancara dengan Rohingya yang telah tiba di Bangladesh pada bulan lalu, kantor hak asasi manusia PBB mengatakan bahwa operasi pembersihan telah dimulai sebelum serangan kelompok separatis terhadap pos polisi pada tanggal 25 Agustus yang lalu dan termasuk pembunuhan, penyiksaan dan pemerkosaan anak-anak.

Komisioner tinggi PBB untuk hak asasi manusia, Zeid Ra’ad al-Hussein, yang telah menggambarkan operasi pemerintah tersebut sebagai contoh buku teks tentang pembersihan etnis, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tindakan tersebut tampaknya merupakan taknis sinis untuk memindahkan secara paksa sejumlah besar orang tanpa kemungkinan utnuk kembali.

“Informasi yang dapat dipercaya menunjukkan bahwa pasukan keamanan Myanmar sengaja menghancurkan harta milik orang-orang Rohingya, membakar tempat tinggal dan seluruh desa mereka di negara bagian Rakhine utara, tidak hanya untuk mengusir penduduk yang berbondong-bondong tetapi juga untuk mencegah korban Rohinya yang melarikan diri untuk kembali ke rumah mereka,” kata laporan tersebut.

Dikatakan penghancuran oleh pasukan keamanan, yang sering diikuti oleh gerombolan-gerombbolan Rakhine yang bersenjata, rumah, ladang, persediaan makanan, tanaman pangan dan ternak membuat kemungkinan Rohingya kembali ke kehidupan normal di Rakhine utara menjadi sesuatu yang hampir tidak mungkin terjadi.

Kampanye tersebut terorganisir dengan baik, terkoordinasi dan sistematis, dan dimulai dengan orang-orang Rohingya yang berusia di bawah 40 tahun ditangkap sebelumnya, yang menciptaka iklim ketakutan dan intimidasi.

About The Author