Kabar Internasional – Menilik Kemungkinan Macron akan Dikalahkan Le Pen

Marine Le Pen selaku kandidat Presiden Prancis yang berhaluan ekstrem kanan, telah berada pada urutan kedua dalam pemilihan di putaran pertama. Dirinya akan kembai bertarung menghadapi Emmanuel Macron dalam putaran selanjutnya. Meski pun saat ini, pentolan dari Partai Front Nasional tersebut, masih kalah tipis dari sang rival. Pada hasil pemungutan suara selanjutnya, kemungkinan hasilnya akan berkata lain.

Seolah masih belum lama ini, Le Pen telah naik panggung guna menyapa sejumlah pendukungnya. Saat ini, sistem politik pada negera tersebut telah bergerak guna melakukan pertentangan kepada dirinya. Saat dirinya mengungkapkan, ”Ini saatnya untuk bisa membebaskan Prancis dari para elite yang arogan.” Orang – orang yang telah dihinanya, telah menyalurkan dukungannya terhadap sang lawn yang merupakan para politikus moderat.

Seiring dengan dukungan akan gerakan “En Marche”, Macron pun bersorak, baik pada Partai Republik yang telah memberikan dukungan kepada Francois Fillon atau pun Partai Sosialis yang telah mendukung Benoit Hamon guna meminta para kader agar mengalihkan dukungannya kepada Macron.

Secara teoritis, dukungan meraka mampu membuat kemenangan bagi Le Pen pada pemilu yang hampir mustahil. Macron yang saat ini baru berusia 39 tahun, kemungkinan akan dengan mudah untuk menjadi pria termuda yang akan memimpin Prancis.

Sejumlah lembaga survey pun mengungkapkan demikian. Sebelum berakhirnya putaran pertama, jejal pendapat telah menunjukkan apabila Macron akan mampu mendominasi pada putaran kedua dengan perkiraan perolehan suara hampir mencapai 60 %.

 Kemenangan Macron pada pemungutan suara 2 hari yang lalu, juga telah diperkirakan sejumlah lembaga survey. Oleh sebab itu, hal ini tentunya tak akan menjadi sebuah kejutan sebab jajal pendapat di Prancis telah berulang kali akurat.

Sesungguhnya, kejutan yang terjadi ialah penilakan rakyat Prancis akan dua partai utama, serta memuncaknya dukungan kepada Macron yang tak diusung oleh partai tradisional.

Mestinya Partai Republik tersingkir, setelah Francois Fillon sebagai kandidatnya, telah terjerat skandal gaji palsu istri dan anaknya. Pada sayap kiri, di Partai Sosialis yang saat ini tengah berkuasa, juga tidak memperoleh hasil memuaskan dengan Benoit Hamon.

Namun, belum lama ini scandal sempat menyinggung Macron. Hal inilah yang bisa mendorong akan perolehan suara dari Le Pen. Le Pen juga mesti meyakinakan, bahwa dirinya merupakan politikus yang lebih baik dibandingkan dengan Macron.  Tetapi, meski pun demikian, dirinya memang tetap jadi calon yang tak dijagokan.

About The Author