Kabar Internasional – Pasukan Irak Menekan Kurdi Di Luar Kota Sinjar

Pejuang Kurdi telah kehilangan lebih banyak wilayah di Irak, sehari setelah pasukan Irak mendorong mreka keluar dari kota Kirkuk yang disengketakan. Di kota Sinjar, komandan molisi Yazidi setempat, Masloum Shingali, mengatakan pasukan Kurdi berangkat sebelum fajar pada hari Selasa (17/10), yang memunginkan milisi yang dipimpin oleh Syiah untuk berperang denga pasukan Irak untuk pindah ke kota.

Shingali mengatakan bahwa tidak ada pertempuran dan bahwa pasukan Kurdi akan segera pergi, mereka tidak ingin berperang. Walikota kota tersebut, Mahma Khalil, mengatakan bahwa Pasukan Mobilisasi Populer, sebuah koalisis Syiah yang dominan mengamankan Sinjar.

Pada hari Senin (16/10), pasukan Irak mendorong sekutu Kurdi mereka dalam pertempuran melawan kelompok Negara Islam keluar dari Kirkuk, untuk merebut ladang minyak dan fasilitas lainnya di tengah meningkatnya ketegangan atas referendum kemerdekaan Kurdi pada bulan Agustus yang lalu.

Pasukan Irak juga menguasai ladang minyak Bai Hasan dan Avana di sebelah utara Kirkuk pada hari Selasa (17/10), setelah merebut ladang Baba Gurgur, Jambur dan Khabbaz, pada hari sebelumnya, kata perwira militer senior kepada Reuters. Pejabat minyak di Baghdad mengatakan semua ladang beroperasi secara normal.

Pentagon berusaha untuk mengurangi skala bentrokan antara kedua belah pihak pada hari Senin (16/10), setelah pasukan yang setia kepada pemerintah pusat di Baghdad dengan cepat mengambil alih hampir seluruh Kirkuk, dan pasukan Kurdi meninggalkan posisi mereka, muncur ke ladang minyak terdekat. Rekaman video menunjukkan aliran pengungsi Kurdi yang meninggalkan Kirkuk di dalam mobil.

Ribuan warga sipil kembali ke Kirkuk pada hari Selasa, sehari setelah melarikan diri karena takut berpotensi terjadi bentrokan antar pasukan.

Langkah Baghdad dilakukan tiga minggu setelah referendum kemerdekaan Kurdi, termasuk kota minyak yang beragam setelah referendum kemerdekaan Kurdi, termasuk kota minyak yang beragam secara etnis, sebuah gerakan kontroversial yang dilihat Baghdad sebagai aneksasi yang efektif.

Penarikan pasukan Peshmerga memberikan keuntungan militer dan politik yang menentukan ke Baghdad dan pukulan yang menghancurkan bagi presiden de facto wilayah Kurdi, Massoud Barzani, yang telah mempertaruhkan sebagian besar warisannya dalam referendum tersebut dan bertujuan menggunakannya sebagai batu loncatan untuk mengkonsolidasikan otonomi Kurdi.

About The Author