Kabar Internasional – Patung Budak Seks, Bukti Protes dari Korsel

Jepang memang saat ini menarik duta besarnya untuk Korsel sebagai sebuah protes atas perbuatan patung yang sudah melambangkan korban  dari perbudakan seks  di masa perang atau iga biasa disebut dengan Jugun lanfu. Dari Patung itu telah ditempatkan persis di depan kantor dari konsulat jepang yang ada di Kota Busan itu.

“jepang dan juga Korea Selatan merupakan tetangga. Korea selatan  adalah negara yang penting. Kami juga akan sangat menyanagkan jika melakukan langkah yang seperti itu,” jelas Suga seperti yang dilansir dalam AFP pada hari Jumat, 06/01/2017.

Patung controversial tersebut mulanya telah disingkirkan dari otoritas local. Tapi, selanjutnya aktivis dari Korea Selatan telah kembali menempatkan patung itu di pekan lalu. Patung wanita pengihbur itu   telah ditempatkan di Busan merupakan slainan dari sebuah patung ainnya yang ada di depan kantor Kedutaan Besar Jepang untuk Korea Selatan.

Selama bertahun-tahun dari patung itu telah menjadi temapt aksi dari protes sejumlah korban dari perbudakan yang masih saja hidup. “Pemerintah jepang memang kaan terus mendesak pemerintahan dair Korea Selatan untuk bisa menghilangkan patung itu,” jelas Suga.

Penarikan dari duta besar itu telah dianggap sebagai salah satu langkah yang bisa menyulutkan kembali perseteruan diantara kedua negara pada masa lalu. Jepang memang sempat menduduki semenanjung Korea selama kurnag lebih 35 tahun.

Sejarawan telah mengungkapkan kurang lebih ada 200 ribu lebih wanita dari sebagaian besar memang berasal dari Korea selatan telah dipaksa bekerja sebagai seorang wnaita penghibur bagi para militer Jepang yang disaat masa itu, yaitu telah menjajah sejumlah negara yang ada di Asia Timur dan juga Asia Tenggara.

Nasib buruk dari perempuan-perempuan korban perbudakan tersebut telah menjadi masalah emosional yang memang cukup memberatkan hubungan dari kedua negara sudah berjalan dari beberapa decade terakhir ini. Bagi sebagian besar dari warga Korea Selatan memang bernasip sebagai para wanita penghibur telah melambangkan penyalahgunaan wewenang dari pemerintahan colonial Jepang kurang lebih selama 1910 sampai 1945 di Semanjung Korea.

About The Author