Kabar Internasional – PBB Menyoroti Jumlah Pernikahan Anak yang Terjadi di Indonesia

Komite Hak Anak yang berasal dari Perserikatan Bangsa – Bangsa atau PBB, sudah melakukan pengatamatan terkait dengan penerapan atas hak anak di Indonesia. Berdasarkan hasil pengamatan itu, salah satu yang menjadi rekomendasinya ialah menaikkan usia minimum untuk pernikahan yang berlaku di Indonesia. Dimana sebelumnya usia minimal untuk melakukan pernikahan adalah 16 tahun, diubah menjadi 18 tahun.

Hal itu bukannya tanpa alasan, sebab kasus pernikahan anak yang berlangsung di Indonesia, telah masuk pada ketegori darurat. Hal tersebut juga sudah diakui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan PerIindungan Anak.

“Memang kondisi ini begitu memprihatinkan serta sudah masuk dalam kategori darurat. Sebab telah menjadi persoalan yang mempunyai banyak dampak bagi negara, masyarakat, keluarga, orang tua serta anaknya,” ungkap Rohika Kuniadi Sari selaku Asissten Deputi Budang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan PerIindungan Anak di Jakarta pada Selasa 7/2/2017.

Pernikahan di usia dini memang telah menjadi pelanggaran pada dasar hak asasi anak sebab telah membatasi pendidikan, membatasi status dan peran, kemampuan anak, keselamatan, penghasilan, kesehatan serta pendidikan. Perkawinan juga berisiko fatal pada tubuh yang telah berujung pada kematian, kehamilan, infeksi penyakit seksual serta kekerasan.

Pada bedah kesimpulan dari hasil pengamatan Komite Hak Anak PBB, Rohika telah memaparkan terkait dengan kondisi pernikahan pada anak yang telah terjadi di Indonesia. Dirinya pun merujuk pada analisis dari data perkawinan di usia dini yang telah dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik di tahun 2016.

Angka perkawinan pada usia anak yang paling tinggi telah terjadi pada perempuan di usia 16 serta 17 tahun. Analisis itu pun menyatakan bahwa 1 dari 4 anak perempuan telah meniah ketika masih belum berumur 18 tahun.

Berdasarkandata yang telah menganalisis perkawinan pada usia anak mulai tahun 2008 sampai dengan 2015, telah menyebutkan bahwa tak terdapat perubahan yang cukup signifikan pada angka perkawinan anak. Semenjak tahun 2008, angka perkawinan pada usia anak memang relatif lebih stabi, yakni berada di angka 25 %. Oleh sebab itu, hal itu harus mendapat perhatian lebih dari pemerintah Indonesia.

About The Author