Kabar Internasional – Qatar serta Tudingan Ekstremisme yang Tanpa Akhir (Part l)

 

Sejumlah negara, termasuk diantaranya Mesir, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi telah menarik duta besar mereka serta menghentikan penerbangan menuju Qatar. Hal itu dilakukan karena krisis diplomatis yang tengah memanas.

Selama bertahun – tahun, Qatar telah dituding sudah terlalu longgar dalam melakukan pembatasan keuangan kepada ekstremis di kawasan. Sejumlah tudingan utama pada Doha, telah membuat banyak negara Teluk mulai memutuskan hubungan dengan Qatar. Berikut ini sejumlah tudingan yang telah mengarah pada Qatar, sebagimana yang telah dilansir dari CNNIndonesia.com.

Taliban, Hamas, Ikhwanul Muslimin.

Semenjak kebangkitan pada politik internasional pada akhir 1990 – an, Qatar sudah mendukung sejumlah kelompok Islamis yang ada di penjuru Arab. Mulai Ikhwanul Muslimin serta para sekutunya yang berada di Libya dan Tunisia. Hal itu dilakukan secara langsung atau pun tidak langsung.

Kerajaan yang kaya akan komoditi minya tersebut, juga pernah menjadi pendukung pada Muhammed Morsi yang merupakan mantan Presiden Islamis Mesir. Hal itu telah memicu adanya perselisihan diplomatic serta berujung pada pemanggilan dari duta besar Bahrain, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Hubungan diplomatic tersebut telah dipulihkan semenjak Qatar bergeser menuju sisi negara – negara Arab dan memberikan dukungan pada Abdel Fattah al – Sisi, penerus Morsi.

Qatar juga masih menjadi tuan rumah oleh sejumlah tokoh besar dari Ikhwanul Muslimin. Sebagaimana diketahui, Ikhwanul Muslimis merupakan gerakan yang telah diklarifikasi sebagai organisasi teroris oleh Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Dia antara tokoh besar Ikhwanul Muslimin ialah Youssef al – Qardawi yang merupakan pemimpin spiritual gerakan Muslim paling tua. Mantan pemimpin Hamas, Khaled Meshaal juga berbasis di Qatar. Adapula Taliban Afghanistan yang memiliki kantor di negara tersebut.

Dugaan Memberikan Pendanaan

Qatar kerap kali dituding sudah terlalu santai dalam melakukan pemberantasan pendanaan pribadi bagi kelompok ekstremis, meski pun demikian tudingan tersebut selalu saja ditampik dengan tegas.

Di tahun 2009 silam, surat diplomatic dari Amerika Serikat telah dibocorkan WikiLeaks dan menyebutkan apabila Qatar sudah tak kooperatif dengan Washington untuk memutus pendanaan dari kelompok ekstremis.

Pada tahun 2015, ada sejumlah politikus dari Prancis yang telah mempertanyakan diplomasi Qatar, hal itu menyusul adanya serangan teror yang terjadi di Charlie Hebdo. Bahkah, duta besar Qatar telah menyatakan sudah menjadi asumsi biasa bahwasannya Doha telah mendanai atau pun menduruk teroris dan terorisme.

Be Sociable, Share!