Kabar Internasional – Serangan Kimia pada Suriah Merupakan Kejahatan Perang

 

Antonio Guterres selaku Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa – Bangsa telah menyatakan bahwasannya dugaan adanya serangan senjata kimia di Suriah, telah menewaskan 70 orang. Serangan tersebut dilakukan pada wilayah kekuasaan pemberontak Suriah. Menurutnya, itu merupakan salah satu kejahatan perang.

“Kejadian itu begitu menyeramkan, menunjukkan bahwasannya kejahatan perang sudah terjadi di Suriah serta hukum kemanusiaan internasional sudah sangat sering dilanggar,” kata Guterres sebagaimana telah dikutip dari Reuters pada Rabu 5/4/2017.

Guterres telah mengatakan apabila Perserikatan Bangsa – Bangsa akan menjalankan tanggungjawabnya terkait atas kejahatan yang seperti ini serta dirinya pun meyakini apabila Dewan Keamanan PBB memang akan memenuhi tanggungjawabnya.

Sampai dengan saat ini, masih belum diketahui pihak mana yang telah memakai senjata kimia itu. Syrian Observatory for Human Rights pun hanya melaporkan apabila gas yang sudah diduga beracun tersebut telah tersebar saat serangan udara tengah terjadi di kawasan Khan Sheikhun itu.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia telah menyebutkan apabila insiden kontaminasi gas beracun tersebut telah terjadi dikarenakan serangan udara Suriah telah menghantam gudang teroris ang berisikan zat kimia berbahaya.

Berdasarkan keterangan dari Rusia, gudang dari senjata kimia tersebut telah dipergunakan oleh para pejuang pemberontak yang ada di Irak. Kremlin juga menyebutkan apabila penggunaan senjata kimia oelah teroris, sudah berulang kali telah berhasil dibuktikan oleh beberapa organisasi internasional serta pemerintahan Haider Al – Abadi.

Tetapi sebelumnya, pemerintahan Bashar Al – Assad memang kerap kali dituding sudah memakai gas beracun ketika perang untuk melawan pemberontak yang ada di negaranya.

Dari hasil penyelidikan PBB di bulan Oktober yang lalu, bahkan sudah menyimpulkan tentang adanya angkatan udara Suriah yang mempergunakan bom barel klorin guna menyerang 3 wilayah oposisi pada tahun 2014 serta tahun 2015.

Dan di insiden kali ini, memang masih belum ada pihak yang sudah berhasil mengidentifikasi terkait kandungan yang ada pada gas beracun tersebut. Berdasarkan keterangan dari sejumlah sumber medis yang ada di lapangan, hanya memberikan informasi bahwasannya pada korban telah mengalami gejala muntah – muntah, mulut berbusa hingga pingsan.

Be Sociable, Share!