Kabar Internasional – Setelah Hak Veto AS, Majelis Umum PBB Agendakan Bertemu dengan Yerusalem

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa yang beranggotakan 193 orang tersebut akan mengadakan sebuah sesi khusus darurat yang langka pada hari Kamis (21/12). Pertemuan tersebut atas permintaan negara-negara Arab dan Muslim atas keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, yang memicu sebuah peringatan dari Washington.

Utusan PBB Palestina, Riyad Mansour, mengatakan bahwa Majelis Umum akan memberikan suara pada sebuah rancangan resolusi yang menyerukan agar deklarasi Trump ditarik, yang diveto oleh Amerika Serikat di Dewan Keamanan PBB pada hari Senin (18/12). Sisa 14 anggota Dewan Keamanan memilih resolusi yang dibuat oleh Mesir, yang tidak secara khusus menyebutkan Amerika Serikat atau Trump namun mengungkapkan “penyesalan mendalam atas keputusan baru-baru ini mengenai status Yerusalem.”

Mansour mengatakan pada hari Senin (19/12) bahwa dia berharap akan ada “dukungan yang luar biasa” di Majelis Umum untuk resolusi tersebut. Pemungutan suara semacam itu tidak mengikat, namun membawa bobot politik.

“Presiden akan mengawasi pemungutan suara ini secara hati-hati dan meminta saya melaporkan kembali ke negara-negara yang memberikan suara menentang kami. Kami akan mencatat setiap pemungutan suara untuk masalah ini,” tulis Haley.

Dia menggemakan panggilan di sebuah pos Twitter: AS akan mengambil nama.”

Di bawah resolusi tahun 1950, sebuah sesi khusus darurat dapat diminta agar Majelis Umum mempertimbangkan masalah “dengan maksud untuk memberikan rekomendasi yang sesuai kepada anggota untuk tindakan bersama” jika Dewan Keamanan gagal untuk bertindak. Hanya 10 sesi seperti itu yang telah diadakan, dan terakhir kali Majelis Umum bertemu dalam sesi tersebut pada tahun 2009 di Yerusalem Timur yang diduduki dan wilayah Palestina. Pertemuan hari Kamis (21/12) akan dilanjutkan dengan sesi tersebut.

Trump tiba-tiba membalikkan dekade kebijakan AS bulan ini ketika dia mengenali Yerusalem sebagai ibukota Israel, menimbulkan kemarahan dari orang-orang Palestina dan dunia Arab dan keprihatinan di antara sekutu Barat Washington. Trump juga berencana memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem dari Tel Aviv. Rancangan resolusi PBB menyerukan agar semua negara menahan diri untuk tidak mendirikan misi diplomatik di Yerusalem.

About The Author

Reply