Kabar Internasional – Staff Twitter Donasikan Rp 21 M guna Melawan Kebijakan Trump

Sejumlah staff di perusahaan medsos Twitter telah mendonasikkan nyaris US4 1,6 juta atau setara dengan Rp 21 miliar. Dana tersebut digunakan untuk melawan kebijakan yang akan dikeluarkan oleh Trump, yakni terkait dengan kebijakan imigrasi yang akan dikeluarkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Kebijakan yang akan dikeluarkan oleh Trump begitu kontraversial. Dana tersebut, selanjutnya akan diberikan kepada organisasai Serikat Kebebasan Sipil Amerika yang telah menggugat kebijakan tersebut.

Kebijakan tersebut, telah ditandatangani oleh Trump pada tanggal 27 Januari yang lalu. Dimana peraturan tersebut telah melarang warga dari tujuh negara yang mayoritas muslim, yakni Yaman, Suriah, Sudan, Somalia, Libya, Iran dan Irak untuk masuk ke Amerika Serikat. Peraturan tersebut, setidaknya akan berlaku dalam kurun waktu 90 hari kedepan. Kebijakan tersebut, pun menangguhkan penerimaan pengungsi dari Suriah pada waktu yang tidak ditentukan serta pengungsi yang berasal dari negara lainnya hingga 120 hari yang akan datang.

Sebagaimana yang telah dilansir dari media asal Inggris, Business Insider. Donasi yang berasal dari salah satu staff Twitter tersebut, pada awalnya telah dilaporkan oleh BuzzFeed serta TechCruch yang pada akhirnya dikonfirmasikan juru bicara Twitter.

Staff Twitter pun telah menggalan dana senilai US$ 530 ribu atau setara dengan Rp 7 miliar bagi organisasi HAM tersebut. Jumlah itu menjadi bertambah US$ 1,59 juta atau setara dengan Rp 21 miliar dari Omid Kordestari selaku Direktur Twitter serta Jack Dorsey selaku CEO Twitter.

“Upaya yang telah kami lakukan juah dari kata akhir. Pada beberapa bulan yang akan datang, kita pun akan melihat banyaknya gugatan hukum, pernyataan public dan dorongan legislatif. Tetapi, selama ini kebebasan sipil telah terancam, saya pun bangga untuk mengetahui individu kita akan terus berjuang untuk mempertahankan kebebasan serta menjaga orang lain,” ujar Vijaya Gadde selaku penasihat hukum Twitter, sebagaimana pernyataan yang telah didapatkan oleh TechCrunch.

Kebijakan imigrasi Trump ini memang penuh kontraversi, sehingga memicu kemarahan dari sejumlah pihak, termasuk dari komunitas teknologi Amerika Serikat. Sejumlah perusahaan besar, Airbnbm Google dan Facebook telah mengecam penangguhan untuk penerimaan pengungsi serta larangan masuk dari warga yang berasal dari 7 negara tertentu tersebut.

About The Author