Kabar Internasional – Terlibat Masalah ISIS, Bos LafargeHolcim pun Mengundurkan Diri

 

Eri c Olsen yang merupakan bos dari produsen semen Prancis – Swiss, LafargeHolcim, telah mengundurkan diri setelah adanya investigasi internal pada aktivitas dari perusahaan itu di Suriah. Hal itu karena terlibat dengan kelompok militan ISIS, September 2014 yang lalu.

“Memang, Dewan Direktur sudah menerima surat pengunduran diri dari Eric Olsen selaku CEO LafargeHolcim. Eric akan meninggalkan perusahaan paada 15 Juli 2017, itu berarti dua tahun masa jabatannya,” sebagaimana yang telah tertulis pada situs resmi perusahaan pada Rabu 26/4/2017.

Penyelidikan internal sudah dilakukan dengan cara independen yang telah memutuskan untuk pembayaran uang jaminan pada pihak ketiga guna memastikan operasional dari pabrik Jalabiya yang berada di Suriah Utara, tak sesuai dengan kebijakan dari perusahaan.

“Kesalahan penilaian begitu signifikan telah dilakukan, hal itu bertentangan dengan petunjuk untuk pelaksanaan yang telah berlaku,” ungkap perusahaan tersebut, sebagaimana yang telah dikutip dari Reuters.

Perusahaan tersebut juga telah menyebutkan apabila Olsen tak bertanggungjawab atas kesalahan yang telah teridentifikasi pada laporan dari penyelidikan tersebut. Senada telah diungkapkan oleh Olsen, pria yang telah memimpin perusahaan semenjak merger pada dua tahun yang lalu itu, telah mengungkapkan apabila dirinya tak melakukan kesalahan apa pun.

“Meski pun saya sama sekali tak terlibat, atau menyadari atas kesalahan apapun, saya pun meyakini apabila kepergian saya ini akan memberikan kontribusi untuk mengembalikan ketenangan dalam perusahaan, dimana dalam beberapa bulan belakangan ini telah mendapatkan sorotan,” beber Olsen.

Jaksa Prancis pun telah menyelidiki aktivitas dari perusahaan itu di Suriah. Ada dua kelompok pengamat Hak Asasi Manusia yang telah membawa permasalahan tersebut pada ranah hokum yang ada di Paris. Menurut mereka, sejumlah pekerjaannya yang ada di Suriah, diduga telah terlibat akan kejahatan perang ISIS.

Berdasarkan laporan penyidikan mencatatkan, antara kekacauan yang terjadi di Suriah pada 2013 yang lalu, serta proses evakuasi pabrik di bulan September 2014. Tidak hanya itu saja, disebutkan pula bahwa manajer setempat pun meyakini apabila pihaknya telah mengambil langkah dari dasar kepentingan perusahaan.

“Sederhana, kekacauan telah menyeruak serta ini merupakan tugas manajemen setempat guna memastikan bahwa pihak perantara telah melakukan apa saja yang telah dibutuhkan untuk bisa mengamankan rantai pemasokan serta dan juga kebebasan pergerakan pegawai,” imbuh laporan tersebut.

 

Be Sociable, Share!