Kabar Internasional – TKW Ilegal Telah Meniggal di Malaysia dan Tunggak Biaya Senilai Rp 50 juta

Salah seorang tenaga kerja wanita yang berasal dari Indonesia dan telah masuk menuju Malaysia dengan cara ilegal, telah mengalami tuberculosis atau TBC. Dirinya pada akhirnya telah meninggal ketika sedang di rawat di rumah sakit serta telah meninggalkan biaya atau tunggakan pengobatan senilai 17 ribu ringgit yang setera dengan Rp 50 juta.

Pemerintah Indonesia pun harus menebus biaya pengobatan pada rumah sakit tersebut, supaya jenazah TKW tersebut tidak ditahan oleh pihak rumah sakit. Tenaga kerja wanita itu bernama Siti Maryam, 23 tahun yang berasal dari Brebes Jawa Tengah. Siti telah meninggal sekitar pukul 01:00 waktu Malaysia.

Berdasarkan keterangan dari pers Biro Humas Kementerian Ketenagakerjaan pada Minggu 5/2/2017, Soes Hindharno selaku Direktur Penempatan dan PerIindungan Tenaga Kerja Luar Negri Kemenaker telah mengungkapkan bahwa jenazah Siti telah dikebumikan di Malaysia setelah mendapatkan persetujuan dari pihak keluarga yang berada di Indonesia. Jenazah Siti telah dikebumian pada Sabut 4/2/2017.

“Untuk tanggungan biaya pada rumah sakit, sudah dilunasi oleh pihak negara dengan menggunakan dana dari APBN Atase Ketenagakerjaan serta KBRI Kuala Lumpur,” terang Soes.

Persoalan tenaga kerja ilegal saat ini memang perlu untuk segera ditemukan jalan keluarnya. Sebab, jumlah mereka yang ada di Malaysia, sudah jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan tenaga kerja Indonesia yang telah masuk secara legal.

“Pada saat ini, di Malaysia sudah ada sekitar 1,3 juta tenaga kerja Indonesia yang telah bekerja secara legal. Sementara itu, yang telah bekerja secara ilegal, jumlahnya telah mencapai 3 kali lipat,” kata Soes.

Padahal, tenaga kerja yang nonprocedural tersebut, tidak memiliki jaminan penempatan serta perlindungan. Sebagaimana kasus yang telah dialami oleh Siti, dimana biaya pengobatannya tidak ditanggung dari pihak asuransi.

Biasanya, para TKI ilegal tersebut, telah masuk menuju Malaysia dengan melalui calo. Saat ini, Program Desa Migran Produktif pada 120 desa kantong tenaga kerja Indonesia sudah tersebar pada 50 kabupaten agar masyarakat tidak lagi jadi tenaga kerja ilegal.

“Kita pun tidak mampu untuk menghalangi para warga desa yang ingin kerja di luar negeri. Namun kita pun akan terus mendorong supaya bekerja menuju luar negeri dengan melewati jalur yang legal,” pungkas Soes.

About The Author