Kabar Internasional – Transformasi 100 Hari Donald Trump : Dari Anak Nakal Hingga Polisi Dunia

Donald Trump selaku Presiden Amerika Serikat, telah berjanji bahwa dirinya akan lebih mengedepankan Amerika Serikat untuk menentang konstruksi global setelah Perang Dunia II. Dimana Amerika Serikat telah menjadi polisi dunia.

Selama menjalani kampanye, Trump telah mengungkapkan apabila Amerika tak akan terus menerus melakukan intervensi pada urusan dari Negara – Negara asing serta terus menjaga ketertiban internasional agar tercipta kondisi yang kondusif.

Bak seorang anak nakal, dirinya pun juga telah menunjukkan sikap yang keras serta pernyataan terkadang menuai banyak kontraversi atas sejumlah hubungan kunci di Asia dan Eropa, organisasi internasional, pakta pertahanan, Perserikatan Bangsa – Bangsa hingga sekutu Negeri Paman Sam, seperti Meksiko. Tetapi semenjak dirinya dilantik, secara perlahan, Trump sudah mulai merubah haluannya.

Sang Presiden yang populis tersebut, saat ini sudah mulai merangkul NATO serta memperkuat kembali hubungan bersama sejumlah Negara sekutu, menegakkan norma internasional dalam melawan senjata kimia, utamanya di Suriah serta lebih banyak dalam mengirimkan pasukan guna membantu menyelesaikan konflik dunia.

Setelah dalam 100 hari menjabat sebagai orang nomor satu di Amerika Serikat, Trump nampaknya sudah mulai menyadari akan perannya pada dunia politik dunia. Dirinya pun menjalankan peran sebagai Presiden Amerika Serikat pada kebijakan luar negeri selama ini, yaitu menjadi pelindung utama dalam system itu sendiri.

“Dirinya sudah berubah 190 derajat,” ungkap James Jeffrey selaku mantan dubes Amerika Serikat untuk Irak serta Turky sebagaimana yang telah dikutip dari CNNIndonesia.

“Dalam beberapa hal, dirinya pun sudah berubah. Perubahan tersebut baik,” imbuhnya.

Sejumlah analisis pun menyebutkan ada sejumlah factor yang juga berperan pada perubahan ini. Kenyataan yang dihadapi pada peristiwa global, tawaran yang datang dari pemimpin Negara asing serta masuknya sejumlah ahli hubungan luar negeri pada cabinet Trump.

Tetapi, sejumlah pihak pun memperingatkan bahwasannya sang presiden, pada saat ini masih minim akan pengalaman internasional. Trump merupakan seorang pemimpin yang reaktif serta taktis meski masih belum memiliki visi strategis.

Bahkan, dirinya lebih suka untuk mengungkapkan pikirannya pada pernyataan 140 karakter pada Twitter. Meski pun demikian, perlu juga untuk dicatat bahwasannya setiap pemimpin dunia memang perlu waktu untuk belajar.

About The Author