Kabar Kesehatan – 125 Juta Anak Di dunia Terkena Obesitas

Obesitas yang dialami oleh anak-anak telah melonjak di seluruh dunia. Meningkat lebih dari sepuluh kali lipat dalam kurun waktu empat dekade terakhir, menurut hasil analisis data terbesar yang pernah ada yang menempatkan jutaan anak-anak memiliki resiko pada kesehatan yang buruk dan kematian dini.

DI samping laporan tersebut, dan juga cerita pada hari Senin (9/10) di The Guardian yang mengungkapkan bahwa biaya total obesitas secara global akan mencapai $ 1,2 milyar pada tahun 2025, Organisasi Kesehatan Dunia menyerukan agar setiap engara untuk bertindak, mengambil makanan besar untuk menghindari biaya manusia dan ekonomi yang meningkat dari obesitas terkati obesitas di tahun-tahun mendatang.

Data baru dari Imperial College London, yang diterbitkan dalam jurnal medis Lancet, menunjukkan bahwa pada tahun 1975 ada lima juta anak perempuan yang megnalami kegemukan, namun pada tahun lalu telah berjumlah menjadi 50 juta orang. Jumlah anak laki-laki yang mengalami obesitas meningkat dari enam jtua menjadi 74 juta pada periode yang sama.

Dr. Fiona Bull dari WHO mengatakan bahwa dunia perlu mengatasi penyebab epidemi dari obesitas dengan melihat apa yang dimakan dan mengapa, serta mengapa tidak lebih aktif secara fisik. “Apa yang tersedia, biaya, harga dan pemasaran makanan secara individu mempengaruhi pilihan kita setiap hari,” katanya.

Apa yang di butuhkan dunia, adalah untuk mengatasi promosi, pemasaran, harga dan iklan makanan tidak sehat yang tinggi garam, gula dan kalori. Ketika ditanya apakah WHO memperkirakan negara harus mengkonsumsi Big Food, sejumlah kecil perusahaan makanan besar yang memproduksi sebagian besar makanan kemasan di dunia, dia menjawab iya, menunjuk pada pengurangan gula dalam makanan olahan dan minuman di Inggris.

“Inggris telah menunjukkan hal itu dapat dilakukan dengan kolaborasi dari industri, dengan mengakui bahwa ini adalah bagian dari solusi,” kata Bull.

Profesor Majjis Ezzati, penulis utama studi obesitas masa kecil dari Imperial College London, mengatakan bahwa pemerintah di negara-negara yang paling kaya belum mau campur tangan di pasar sejauh ini.

“Sebagian besar negara yang berpenghasilan tinggi enggan menggunakan peraturan pajak dan industri untuk mengubah perilaku makan dan minum untuk mengatasi obesitas pada anak,” kata Ezzati.

About The Author