Kabar Kesehatan – Kurang Tidur Memungkinkan Meningkatnya Pikiran Negatif

Pemikiran negatif berulang-ulang terjadi ketika seseorang secara kompulsif tetap memikirkan pemikiran yang mengganggu dan tidak membantu. Hal ini seringkali menyebabkan penurunan kualitas hidup dan munculnya masalah kesehatan mental , yang terkait dengan depresi dan kecemasan.

Prof. Meredith E. Coles dan Jacob A. Nota, keduanya berasal dari Universitas Negeri New York di Binghamton, melakukan penelitian yang berfokus pada kaitan antara pemikiran berulang dengan intensitas sedang dan tinggi (juga disebut sebagai “kekhawatiran” dan “ruminasi”) dan durasi dan kebiasaan tidur seseorang.

Para periset merekrut 52 peserta berusia antara 18 dan 65 tahun, yang semuanya memiliki nilai tinggi dalam Kuesioner Berpikir Perseveratif, yang merupakan ujian yang bertujuan untuk mengukur tingkat individual dari pemikiran negatif yang berulang. Untuk tujuan penelitian ini, para peserta diperlihatkan berbagai pasang gambar (baik yang netral dan emosional menggugah) dan tingkat perhatian mereka diuji dengan mengikuti gerakan mata mereka. Tim juga mengumpulkan informasi tentang siklus tidur peserta, mencatat data tentang berapa lama mereka cenderung tidur setiap malam dan sekitar jam berapa mereka biasanya tertidur.

Prof. Coles dan Nota mengamati bahwa peserta yang melaporkan sering mengalami gangguan tidur juga merasa lebih sulit untuk berhenti memusatkan perhatian pada rangsangan negatif yang mereka hadapi, menunjukkan adanya hubungan antara tidur yang buruk dan banyaknya pikiran yang mengganggu. Secara keseluruhan, Prof. Coles dan Nota menemukan bahwa durasi tidur seseorang yang lebih pendek, semakin lama waktu mereka mengalihkan perhatian dari stimulus negatif. Hal yang sama juga berlaku bagi peserta yang merasa sulit untuk tertidur sejak awal.

Namun, para periset memperingatkan bahwa penelitian mereka memiliki beberapa keterbatasan – terutama fakta bahwa hubungan antara tidur terganggu atau tidur pendek dan kegigihan pikiran negatif berulang tidak selalu mengindikasikan sebab-akibat. Selain itu, kurangnya kelompok kontrol mungkin menyarankan bahwa ruminasi mungkin tidak unik, atau bahkan terutama, karakteristik orang-orang dengan kebiasaan tidur yang buruk.

Namun demikian, mereka mendorong fokus terus-menerus pada pentingnya tidur terhadap proses berpikir dan rentang perhatian, menyimpulkan bahwa perlu “memahami bagaimana gangguan ritme tidur dan sirkadian berinteraksi dengan alokasi perhatian.” Jika penelitian lebih lanjut meniru temuan mereka saat ini, mereka menambahkan, ini bisa berarti bahwa di masa depan kita mungkin dapat mengobati dan mencegah kondisi seperti kecemasan dan depresi dengan cara memodifikasi pola tidur kita dengan lebih baik.

About The Author

Reply