Kabar Kesehatan – Obat Herbal Masuk BPJS, Mungkinkah?

 

Obat-obatan herbal memang memiliki bahan dasar dari kekayaan hayati yang ada di Indonesia guna menanti untuk bisa dikembangkan. Apalagi dari obat herbal yang sudah ditopang dari riset yang tidak kalah berkhasiatnya daripada obat kimia.

Dari Executive Director Dexa laboratories Dari Biomecular Science atau disingkat sebagai DBLS dari PT Dexa Media yaitu Dr. Raymond telah  mengatakan bahwasannya obat yang berbahan alami yang sudah diuji klinis atauppun yang sudah berstatus fitofarmaka pastinya dapat bersaing dengan beberapa obat kimia.

Dengan demikian, obat herbal juga semestinya dapat masuk di dalam formalarium nasional atau Fornas jadi bisa ditanggung BPJS atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan.

Dari hal itu, Kepala Grup bagian peleitian dan pengembangan dari BPJS Kesehatan yaitu Dwi Martiningsih telah mengatakan untuk ke depannya obat herbal dapat ditanggung oleh pihak BPJS Kesehatan asalkan hal itu sudah ditetapkan dari regulasinya dan juga sudah masuk Formas.

Namun, bagi Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional yaitu dari Kementrian Kesehatan yang bernama Meinarwati juga berpendapat bahwa pihaknya telah mengeluarkan fotmalarium tradisional  atau Fortranas di tahun 2017.

Dari daftar obat tradisional yang termasuk di dalam obat herbal yang bisa ditanggung oleh pihak BPJS Kesehatan nantinya bisa dimasukkan di dalam fortranas itu. Sebetulnya merupakan obat herbal dapat diresepkan kepada pasien.

Meinarwati telah mengungkapkan ada peraturan yang telah menyatakan seorang dokter dapat meresepkan sebuah obat herbal ke pasien BPJS waluapun memang belum masuk ke dalam Fornas. Hal tersebut sudah diutur dalam Permenkes No 21 Th 2016 yaitu tentang penggunakan Dana kapasitas dari JKN di Fasilitas Kesehatan di tingkat pertama.

Namun, sayangnya dari Deouti Bidang Pengawasan Obat Tradisional dan juga Kosmetik serta Produk Komplemen BPOM yaitu Ondri Dwi S., belum banyak dari obat herbal yang sudah teruji klinis. Dari produk fitofarmaka yang sudah terdaftar di Badan pengawas Obat dan Makanan baru ada 8 obat herbal. Dan sisanya adalah 45 produk herbal yang terstandar ataupun baru sampai pada tahap praklinis dan juga sekitar ada 8.000 jamu.

Be Sociable, Share!