Kabar Kesehatan – Sindrom Brugada, Penyakit yang Dialami Bocah Turki Setelah Santap Hot Dog

Makan hot dog terlalu banyak mungkin akan menimbulkan gangguan kesehatan,misalnya saja obesitas. Tetapi, bagaimanakah apabila yang terjadi bila hanya memakan sepotong hot dog? Kemungkinan kita tidak akan merasakan adanya efek apa pun, namun hal sebaliknya yang telah dialami oleh bocah Turki. Sebagaimana yang telah dilansir dari CNNIndonesia.com, bocah tersebut telah divonis menderita brugada syndrome atau sindrom bruganda.

Penderita dari sindrom ini, telah membuatnya terancam. Namun, meski pun merupakan sindrom yang berbahaya, tetapi tidak banyak yang mengetahui tentang penyakit yang satu ini. lantas, apakah sindrom brugada itu?

Sebagaimana yang telah dikutip dari Hello Sehat, sindrom brugada telah mengakibatkan jantung berdetak dengan tak beraturan serta tak bisa memompa darah dengan efektif.

Jantung berdenyut dipicu adanya dorongan listrik yang telah dihasilkan sel ruang kanan jantung. Memang kerja jantung yang bisa berdetak secara teratur sebab terdapat saluran khusus yang memang bertugas untuk mengantaran aliran listrik tersebut. Pada penderita sindrom brugada, terdapat kerusakan di bagian saluran yang menghantarkan aliran listrik ini.

Apabila ada gangguan irama jantung terjadi dalam waktu singkat, makan penderita bisa saja mengalami kondisi tidak sadarkan diri atau pingsan. Sedangkankan bila hal itu terjadi pada waktu yang cukup lama, maka bisa saja akibatnya akan fatal. Bila jantung berhenti mendadak, maka kemungkinan bisa juga akan menyebabkan kematian.

Pada kasus yang belum lama ini terjadi, karena gigitan hot dog telah merangsang kambuhnya brugada sindrom. Saraf telah menstimulasi jantung agar meningkatkan kecepatan dari detak jantung, sehingga penderita telah terkena serangan jantung.

Terdapat sejumlah faktor yang makin meningkatkan resiko dari terkenanya sindrom ini. apabila terdapat anggota keluarga yang telah terkena sindrom ini, maka Anda pun memiliki resiko yang tinggi mengalaminya. Sejauh ini, laki – laku lebih rentan untuk terkena sindrom ini dibandingkan dengan perempan. Sindrom ini juga lebih sering dialami oleh orang Asia, termasuk pula Indonesia. tidak hanya itu saja, sering mengalami demam juga bisa memicu iritasi jantung serta merangsang serangan jantung, utamanya pada anak – anak.

About The Author