Kabar Kesehatan – Sunat Pada Perempuan Berikan Efek Buruk

Dari peraturan Menteri Kesehatan yang baru no.6 th. 20014 sunat pada perempuan tak dianggap sebagai suatu tindakan kedokteran dikarenakan pelaksanakannya tak berasal dari adanya indikasi medis. Selain hal itu, dari peraturan itu, pelaksanaannya juga belum terbukti sunat perempuan bermanfaat untuk kesehatan.

Tapi, sayangnya dari praktik sunat pada perempuan memang masih saja terjadi di berbagai tempat yang ada di Indonesia. Ini juga disebabkan dikarenakan sebuah prosesi masih saja begitu lekat dengan sebuah tradisi.

Di daerah Gorontalo, contohnya. Salsa Djafar, yaitu anak perempuan yang berusia 1,8 tahun, jadi memang harus menjalankan sebuah prosesi sunat itu. dengan adanya bantuan pisau dan juga kain putih, alat reproduksi atau lebih tepatnya di bagian klitoris telah diiris oleh dukun sunat yang telah menjalankan prosesi sunat itu. dari prose situ bisa menjadi tanda keabsahan diri bayi yaitu sebagai seorang muslim.

Dari segi medis, ternyata sunat perempuan ini jauh beda dengan sunat yang dilakukan kepada laki-laki. Dokter Edwin Tanihaha, yaitu seorang dermatovenerologist telah menjelaskan jika sunat pada perempuan itu sama sekali tak mempunyai efek yang baik dalam kesehatan.

“Dari pandangan medis, sunat pada perempuan beda dengan sunat pada laki-laki. Sunat pada perempuan itu memang pada umumnya telah di bagi 2 tenik, yaitu dengan menyayat klitoris sedikit atau malah membuang klitorisnya. Efek baiknya tak ada karena itu menyangkut kepada tradisi ataupun keagamaan tertentu,” jelas Dr. Edwin.

Sedangkan bagi sunat laki-laki memanglah mempunyai banyak manfaat. Manfaat sunat laki-laki yaitu untuk membuang smmegma ataupun kotoran secara jangka panjang dapat menimbulkan banyak penyakit dan juga demi kebersihan agar kotoran tak bisa terkumpul pada preputium kulit.

Ditambahkan oleh seorang dokter yang sedang di RS di Cilandak, Jakarta itu jika sunat pada perempuan malah akan memberikan efek yang buruk untuk penerimanya.”Kadang jika disterilkan dari tindakan yang kurang baik, maka itu bisa menimbulkan adanya risiko infeksi, nyeri, perdarahan dan juga bekas luka.”

Maka dari itu dia menganggap jika sunat paada perempuan tak ada manfaat. Jadi, tak perlu dilakukan. Dari sisi medis pun, tujuan telah dilakukan sebuah tindakan guna tindakan pencegahan ataupun pengobatan. Dan bahkan dapat memperbaiki kosmetik, jika itu diperlukan. Tapi, sunat perempuan itu tak masuk di dalam 3 kriteria tersebut.”

About The Author