Kabar Kuliner – Memotong Puncak Tumpeng Dulu, Itu salah Besar

 

Selama ini salah satu cara makan tumpeng seperti yang sudah dilakukan masyarakat di Indonesia adalah dengan memotong puncaknya dulu. Baru nanti diberikan kepada orang yang dirasa paling dihormati atau paling disayangi. Sebuah prosesi ini bahkan dianggap sangatlah penting. Dan bahkan saat memotong kue ini menjadi satu acara puncak dari sebuh perayaan.

Namun, ada yang perlu kamu ketahui bahwasannya dengan cera memotong puncak dari tumpeng adalah sebuah kesalahan yang besar. Hal tersebut telah menyalahi aturan dari filosofi tumpeng itu sendiri.

“Tumpeng memang bersal dari Jawa, namun terpengaruh dari budaya Hindu dan India,” jelas Murdjati Gardijito seorang peneliti dari pusat studi pangan & gizi dari UGM, seperti yang dilansir dari kompas.com pada hari Sabtu, 13/08/2016.

Murdjati juga sudah menyebutkan bahwasannya tumpeng yang berbentuk kerucut itu lebar dibawah dan meruncing ke atas. Sebenarnya merupakan representasi dari sebuha gunung Mahameru yang ada di India yang sudah dianggap tempat sacral yaitu tempat berkumpulnya para dewa.

“Pada bagian atas tumpeng itu hanya terdiri satur butir nasi, dan itu merupakan symbol dari Tuhan YME. Makin ke bawah merupakan umat dari berbagai tingkat kelakuannya. Makin banyak dari umat yang memiliki kelakuan yang kurang begitu baik, dan yang sempurna adalah yang sedikit. Maka dari itu tidak boleh jika dipotong pada puncaknya,” jelas Murdjati.

Karena jika dipotong pada puncaknya, maka bisa menyalahi dari dilosofi dari representasi hubungan manusia dengan Tuhannya. “Jika dipotong pada puncaknya, itu menunjukkan memotong adanya hubungan umat dengan Tuhannya. Dipotong bagian atasnya juga lauknya tidak kena,” jelas Murdjati.

Dia juga mengatakan bahwasannya cara memotong tumpengadalah karena adanya pengaruh budaya dari barat, yaitu memotong kue. “kalau kue seharunya memang dipotong namun, jika itu tumpeng makannya harus dikepung, atau dimakan bersama-sama.” Jelas Murdjati.

Nah, bagaimana cara makan tumpeng yang benar?

“Bersama-sama pakailah tangan untuk mengambil dari bawah, kemudian puncaknya lalu turun lagi smapai akhirnya puncak menjadi satu yaitu dengan dasarnya, yang itu artinya manunggaling kawulo lan Gusti atau dari sang Pencipta akan kembali ke semua makhluk,” tambah Murdjati.

Be Sociable, Share!

 
9  

Tags

, ,

Related Posts

  • No Related Posts

About the author