Kabar Nasional – 148 Perguruan Tinggi Swasta Nyatakan Lawan Radikalisme

 

Menteri Riset Tehnologi dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) bersama 148 Pergutuan Tinggi Swasta di seluruh Indonesia kemarin berkumpul di Universitas Kristen Indonesia, Cawang Jakarta Timur. Pertemuan digelar dalam rangka menggelar pendeklarasian pergerakan anti radikalisme. Cara paling ampuh untuk melawan radikalisme adalah dengan menanamkan kembali nilai nilai Pancasila di lingkungan kampus. Selain itu juga mengaktifkan semua kegiatan kampus yang berkaitan dan berdasarkan Pancasila. Masyarakat kampus juga harus menjunjung tinggi Empat Pilar Kebangsaan, dimana salah satunya adalah Bhineka Tunggal Ika yang saat ini sedang terkontaminasi isu sara. Karena isi sara inilah dan dibumbui paham radikalisme kerukunan dalam kehidupan seperti awan kelabu, keruh dan gelap.

Penyatuan berbagai suku di Indonesia ini hanya dengan satu yakni Pancasila,sebagai salah satu generasi penerus bangsa para pelaku di Perguruan Tinggi memiliki andil besar dalam menjaga dan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan. Harapannya dengan dilakukan deklarasi ini, maka seluruh Perguruan Tinggi kompak memberantas paham radikalisme yang saat ini sedang gencar berkembang di kehidupan kampus, terutama di kegiatan extra para mahasiswa. Deklarasi ini dibaca dan ditanda tangani sebagai bentuk atas bersatunya ratusan Perguruan Tinggi dan sebagai bentuk kerja sama menumpas paham radikalisme di kalangan para pelaku Perguruan Tinggi. Setelah acara deklarasi akan ada ‘Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme’

Acara ini akan digelar di Bali, tepatnya di Nusa Dua Bali pada tanggal 25 September dan 26 September mendatang. Akan ada 4 ribu pemimpin perguruan Tinggi di seluruh Indonesia yang akan menghadiri acara ini, turut serta presiden Republik Indonesia Joko Widodo dalam acara ini. Alasan utama diadakan acara ini adalah gerbang masuk paham radikalisme pada anak muda dengan melewati perguruan tinggi. Banyak perguruan tinggi yang kebobolan, termasuk perguruan-perguruan tinggi negri.

Kebanyakan mahasiswa terperdaya janji-janji palsu gerakan radikalisme adalah mereka yang mengambil jurusan eksakta. Para mahasiswa ini bisa terpengaruh radikalisme karena mereka tidak mengerti Islam, serta adanya masalah ketimpangan ekonomi yang membuat mereka tergiur akan janji-janji kaum radikalisme yang jelas membuat banyak kerugian. Gerakan melawan radikalisme ini belum terlambat, masih bisa dicegah. Semoga dengan adanya deklarasi ini isi sara tak lagi ada di Indonesia.

Be Sociable, Share!