Kabar Nasional – BBKP Surabaya Gagalkan Penyelundupan 11 Ular Berbisa Dalam Perut Minion

Petugas dari BBKP (Balai Besar Karantina Pertanian) Surabaya yang terletak di Jalan Raya Juanda Sidoarjo berhasil menggagalkan proses penyelundupan belasan anak ular berbahaya yang di dimasukkan ke dalam boneka Minion.

“Ular itu dikemas dan dimasukkan ke dalam boneka sert dibungkus dengan kardus yang didalamnya berisi mie instan, dan hendak dikirim ke Afrika,” kata Musyaffak Fauzi, Kepala Balai Karantina Pertanian Surabaya, pada Senin 28 Agustus 2017.

Dia mengutarakan, kecurigaan para petugas bermula saat adanya informasi yang didapat dari Juanda Mail Processing Centre mengenai adanya paket yang hendak dikirim ke Afrika Selatan.

“Dari insting intelijennya itu, petugas menengarai ada sesuatu yang dirasa mencurigakan yang terdapat dalam kemasan kardus itu. setelah dibuka ternyata ditemuka adanya sebelas anak ular yag dikemas dan dimasukkan ke dalam boneka Minion,” katanya.

Ke-11 ekor ular diantaranya sepuluh ekor ular adalah ular indonesian pit viper atau ular kapak hijau (Trimeresur us insularis, non Appendix atau tidak dilindungi tapi berbisa) dan yang satu ekor ular diidentifikasi sebagai ular lanang atau biasa yang disebut king kobra (Ophiophagus hannah).

Ular kapak hijau adalah spesies endemik yang biasanya hidup di daerah Alor, Bali, Lombok, Flores, Sumabawa dan Sumba. Sedangkan ular anang merupakan ular bebisa terpanjang di dunia, ular tersebut mempunyai panjang tubuh ular dewasa secara keseluruhan mecapai sekitar 5,7 meter.

“Menurut  IUCN (Internastional Union for Conservation of Nature) 3,1, status koservasinya masuk dalam kategori rentan, dan yang mana spesies tersebut merupakan endemik dari Sumatra, kalimantan, Bali dan Sulawesi,” katanya.

Setelah dilakukan proses pemeriksaan dan identifikasi, diketahui jika ular itu termasuk dalam dua jenis ular yang sangat berbisa serta sangat mematikan di indonesia. Identifikasi itu berdasarkan dari katalog ular asli dari Indonesia.

“Bisa disesuaikan dari ciri – ciri yang berdasarkan dari spesiesnya, motif sisik, warna, bentuk kepala dan ekor ular itu,” terangnya.

Menurutnya, ular yang berbahaya itu tidak memenuhi persyaratan sesuai dengan UU No. 16 tahun 1992, yakni tanpa dilengkapi dengan health certificate (sertifikat kesehatan) dari daerah asalnya dan tidak menyerahkan atau melaporkan kepada pihak petugas karantina untuk kemudian dilakukan tindakan karantina.

“Instansi atau juga atas nama perorangan akan kita lakukan penindakan tegas jika memang melanggar. Dengan ancaman kurugan penjara 5 tahun dengan denda uang sebesar Rp 150 juta,” katanya.

About The Author